PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan terus berjalannya
waktu, penulis mengamati semakin banyaknya rakyat Indonesia yang hidup pada
garis perekonomian tingkat menengah hingga ke bawah. Maraknya kemiskinan yang
terjadi pada masyarakat di Indonesia ini merupakan salah satu efek dari
tingginya jumlah penduduk di setiap kota-kota Indonesia. Secara nyata,
pencegahan kepadatan penuduk ini sebenarnya sudah menjadi salah satu program
pemerintah pusat maupun daerah di Indonesia dalam rangka meminimalisirkan
jumlah masyarakat miskin di setiap wilayah-wilayah Indonesia yaitu melalui
program Keluarga Berencana (KB).
Population
density atau yang lebih dikenal dengan kepadatan penduduk adalah
jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu dengan satuan
per kilometer persegi. Ciri-ciri kepadatan penduduk yang makin lama makin
tinggi adalah tingginya pertumbuhan penduduk yang terus berjalan dan
meningkatnya jumlah pemukiman di daerah tersebut.
Malthus (1798) mengatakan bahwa
pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari bahan makanan. Akibatnya pada suatu
saat akan terjadi perbedaan yang besar antara penduduk dan kebutuhan hidup. Artinya,
jumlah penduduk cenderung untuk meningkat secara geometris yaitu deret ukur (1,
2, 4, 8, 16, ...) sedangkan kebutuhan hidup riil dapat meningkat secara
arismatik yaitu deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, ..).
Sedangkan
kemiskinan menurut Hall dan Midgey (2004:14) bahwa Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai
kondisi deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup dibawah
standar kehidupan yang layak atau kondisi dimana individu mengalami deprivasi
relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat.
Population
density atau yang lebih dikenal dengan kepadatan penduduk adalah jumlah
penduduk yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu dengan satuan per
kilometer persegi. Ciri-ciri kepadatan penduduk yang makin lama makin tinggi
adalah tingginya pertumbuhan penduduk yang terus berjalan dan meningkatnya
jumlah pemukiman di daerah tersebut.
Demikian pula dengan kepadatan
penduduk yang terjadi di Indonesia. Menurut Sensus Penduduk (1991) Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang
besar yakni
200.000.000 orang. Jumlah penduduk yang besar
itu bertambah pula dengan pesat, walaupun program Keluarga Berencana (KB) telah dilakukan secara intensif.
Sehingga menurut penulis, dengan
adanya jumlah penduduk yang terus berkembang pesat itu, maka akan menyebabkan
kondisi masyarakat baik kebutuhan secara materi maupun sosial belum terpenuhi
dengan baik.
Dengan
hal-hal tersebut diatas, maka penulis berkeinginan untuk melakukan pengamatan
pada pertambahan jumlah penduduk yang terdapat di kota Palembang sesuai dengan
data yang penulis hasilkan dari berbagai sumber terpercaya. Yang disertai
dengan pendataan pengangguran yang merupakan sebab dan akibat utama dari
masing-masing kepadatan penduduk dan kemiskinan.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apakah faktor-faktor kepadatan penduduk
yang berdampak pada kemiskinan?
2) Bagaimanakah cara untuk mengatasi
kepadatan penduduk tersebut
yang tidak
seimbang dengan jumlah kebutuhan pokok pada masyarakat kota Palembang?
3) Siapakah aktor/pihak utama yang
harus bertanggung jawab dalam masalah
kemiskinan ini?
1.3 Tujuan Penelitian
1) Mengetahui
faktor-faktor kepadatan penduduk yang berdampak pada kemiskinan.
2)
Mengetahui cara mengatasi kepadatan penduduk yang jumlahnya tidak
seimbang dengan kebutuhan
pokok masyarakat Palembang.
3)
Mengidentifikasi pihak yang terlibat pada masalah tersebut.
1.4 Manfaat Penelitian
1) Mampu membantu pemerintah dengan semaksimal mungkin untuk menanggulangi kemiskinan di kota
Palembang, yang merupakan salah satu kota metropolitan di
Indonesia.
2) Serta diharapkan bermanfaat bagi pihak yang ingin
mengamati tentang
masalah kependudukan dan kemiskinan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Rumusan
Masalah
1) Apakah faktor-faktor kepadatan penduduk
yang berdampak pada kemiskinan?
2) Bagaimanakah cara untuk mengatasi kepadatan
penduduk tersebut yang tidak seimbang dengan jumlah
kebutuhan pokok pada masyarakat kota Palembang?
3) Siapakah aktor/pihak utama yang harus
bertanggung jawab dalam masalah kemiskinan ini?
2.2 Pembahasan Masalah
1) Faktor-Faktor
Kepadatan Penduduk yang Berdampak Pada Kemiskinan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata
miskin berarti tidak berharta; serba
kekurangan (berpenghasilan sangat rendah);
kemiskinan berarti hal miskin. Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar dan kecil dengan luas tabah
kira-kira 2 juta km² dan jumlah
penduduk yang ke empat terpadat di dunia setelah China, India,dan Amerika. Pertumbuhan penduduk,
kualitas sumber daya manusia (SDM)
yang rendah, dan sempitnya kesempatan
kerja merupakan akar permasalahan kemiskinan. Jadi aspek demografis mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan yang dihadapi di Indonesia pada saat ini. Daerah miskin sering ditinggalkan penduduknya untuk bermigrasi ke tempat lain dengan alasan mencari kerja.
Malthus meyakini jika pertumbuhan
penduduk tidak dikendalikan maka suatu
saat nanti sumber daya alam akan habis.
Sehingga muncul wabah penyakit, kelaparan, dan berbagai
macam penderitaan manusia. Sebagaimana
diketahui perubahan angka pertumbuhan
penduduk disebabkan oleh unsur-unsur
:
a. Fertilitas atau kelahiran merupakan salah satu faktor penambah jumlah penduduk disamping
migrasi,jumlah kelahiran setiap
tahun di Indonesia masih besar, jumlah bayi yang lahir setelah tahun 2000 masih tetap banyak jumlahnya tiap-tiap
tahun jumlah kelahiran bayi di
Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta bayi
b. Mortalitas atau kematian merupakan salah satu dari 3 faktor demogarafis selain fertilitas dan migrasi,
yang dapat mempengaruhi jumlah dan
komposisi umur penduduk, factor social
ekonomi seperti pengetahuan tentang kesehatan, gizi dan kesehatan lingkungan, serta kemiskinan merupakan factor individu dan keluarga mempengaruhi
mortalitas dalam masyarakat.
c. Migrasi adalah merupakan gerak perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dengan
tujuan untuk menetap di daerah tujuan,
migrasi sering diartikan sebagai perpindahan yang
relative permanen dari suatu daerah ke daerah lainnya
(orangnya disebut migran).
Philip Hauser menganggap kemiskinan
tercipta dari tidak optimalnya
tenaga kerja dalam bekerja dikarenakan adanya ketidakcocokan
antara pendidikan dan pekerjaan yang ditekuni. Hal
ini disebabkan oleh tingginya jumlah penduduk yang masuk ke pasar kerja sehingga memaksa
pencari kerja untuk mendapatkan
pekerjaan secepat-cepatnya walaupun tidak sesuai
dengan latar belakang pendidikannya akibat ketatnya persaingan dalam mencari kerja.
2) Cara
Mengatasi Kepadatan Penduduk yang Tidak Seimbang dengan Jumlah Kebutuhan Pokok Pada Masyarakat Kota Palembang.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang mencatat, pertumbuhan penduduk di Kota Palembang
sejak tiga tahu terakhir meningkat
signifikan, dengan rata-rata sekitar 20.000 jiwa
per tahun. Berdasarkan sensus penduduk 2010, penduduk Palembang yang ditetapkan sebanyak 1.455.284 jiwa. Penghitungannya dimulai Juni 2000–Mei
2010.
Selanjutnya,
angka sementara pada Mei
2009–Juni 2010, penduduk Palembang bertambah 25.489 jiwa menjadi 1.480.773 jiwa. Tahun berikutnya, Juni 2010-
Mei 2011, penduduk Palembang
sebanyak 1.502.452 ataubertambah 21.679 jiwa.
Terakhir, Juni 2011–Mei 2012, jumlah penduduk 1.523.310 jiwa bertambah 20.858 jiwa. Menurut penghitungan sementara, data ini bukan berdasarkan kartu keluarga atau KTP. Warga yang menetap di Palembang minimal enam bulan termasuk dalam penghitungan penduduk Palembang.
Terakhir, Juni 2011–Mei 2012, jumlah penduduk 1.523.310 jiwa bertambah 20.858 jiwa. Menurut penghitungan sementara, data ini bukan berdasarkan kartu keluarga atau KTP. Warga yang menetap di Palembang minimal enam bulan termasuk dalam penghitungan penduduk Palembang.
Menurut Agung
(2013) bahwa dilihat dari pertumbuhan penduduk
Kota Palembang yang pesat dari tahun ke tahun, maka
penduduk Kota Palembang dimungkinkan akan memiliki masalah besar, terutama
menyangkut kebutuhan pokok, sandang,
pangan, papan, dan ketersediaan lapangan pekerjaan,
pendidikan, juga kesehatan.
Tahun
|
∑
Penduduk
|
Angka
Pertumbuhan (r)
|
2003
|
16.834
|
-
|
2004
|
17.274
|
2,6168
|
2005
|
17.726
|
2,6175
|
2006
|
18.191
|
2,6183
|
2007
|
18.667
|
2,6191
|
2008
|
19.156
|
2,6200
|
Berikut
ini merupakan tabel pertambahan penduduk di Kota Palembang.
Sumber : BPS Kota Palembang 2009
Untuk
menghambat laju pertumbuhan penduduk di Indonesia
yang semakin pesat, maka program KB (Keluarga Berencana)
harus lebih diperketat lagi seperti pada penggunaan
program KB beberapa tahun yang lalu. Diharapkan,
program KB dapat menjadi salah satu kunci sukses
untuk menekan laju kependudukan, disamping
program Transmigrasi yang
digagalkan oleh pemerintah. Permasalahan
kependudukan ini harus segera ditangani, dan diharapkan semua pihak dapat ikut
membantu menekan laju pertumbuhan penduduk dengan ber-KB.
Jika masalah ini tidak segera ditangani,
maka dikhawatirkan semakin banyak penduduk,
maka semakin lambat dan mungkin dapat menghambat
pembangunan
3) Aktor/pihak utama yang berperan
penting dalam masalah kemiskinan
Sebenarnya siapakah lisensi terkait yang harus bertanggung
jawab atas kemiskinan ini? Apakah
pemerintah, rakyat atau lisensi lain?
Sebagian dari kita mungkin pernah berpendapat bahwa
pemerintah dipandang tidak tegas dalam menyikapi permasalahan ini, sehingga kemiskinan kin pun semakin meningkat. Sedangkan sebagian orang lagi berpendapat bahwa pemerintah berhasil menekan angka kemiskinan walau secara perlahan.
Inilah
pengamatan melalui survei yang telah penulis lakukan
kepada beberapa orang masyarakat Palembang, dengan
pertanyaan “Siapakah aktor/pihak utama yang harus bertanggung jawab atau berperan penting dalam masalah kemiskinan?” yakni sebagai berikut:
Kemiskinan
merupakan sebuah masalah berbagai bidang yang
terkait dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Kemiskinan dalam kodratnya menjadi tanggung jawab bersama secara bertahap, secara simultan dan
berkesinambungan. Dari level paling
bawah setiap kepala rumah tangga mempunyai tanggung
jawab untuk memberikan penghidupan yang layak bagi rumah tangganya, dan pemerintah bertanggungjawab membuka kesempatan kerja. Selain pemerintah, pihak
swasta pun berhak bertanggung jawab untuk
memberikan tingkat upah/gaji yang layak
kepada karyawannya, sehingga memberi nilai lebih dalam memenuhi kebutuhan hidup karyawan.
Berdasarakan
diagram survei tersebut, berarti kemiskinan tidak
hanya merupakan tanggung jawab pemerintah semata. Masyarakat dan swasta pun harus berperan serta dalam menciptakan lapangan kerja
yang tidak saja sekedar menampung
tenaga kerja tapi juga bisa memberikan penghasilan
tinggi. Masyarakat juga harus berperilaku adil, tidak menyerobot hak-hak orang miskin. Karena masih ada saja kita temui sebagian masyarakat yang
tidak ikhlas dan rela orang lain
disebut miskin, dan mereka juga ingin
dianggap orang miskin.
Pemerintah
melalui beberapa program
interfensi untuk menuntaskan kemiskinan
memerlukan dukungan sepenuhnya dari
masyarakat agar bersama-sama mengawal program tersebut
sehingga apa yang menjadi sasaran bisa
tercapai. Dan wujud nyata dukungan
masyarakat adalah adanya kesadaran
diri bahwa, "Saya tidak
miskin, beras ini adalah hak nya
orang miskin” contoh: Program Raskin.
Swasta pun berkewajiban meningkatkan pendapatannya untuk memberikan imbas
kepada peningkatan pendapatan
karyawannya dan pemerintah sebagai pemegang regulasi
berkewajiban mengakomodasi kebutuhan swasta dalam usahanya.
Seperti yang
telah penulis tuturkan diatas bahwa kemiskinan merupakan
masalah multidimensional. Kebijakan penanggulangan
kemiskinan perlu dirancang lebih
spesifik mengingat
kemiskinan antar daerah biasanya cukup
tinggi dan bervariasi terutama
kota-kota metropolitan serta tidak ada satupun
kesatuan kemiskinan yang bisa
mengeneralisir semua daerah bahkan
daerah terpencil sekalipun.
Maka penanggulangan
kemiskinan juga harus dirancang untuk
melibatkan secara aktif pihak swasta dan masyarakat. Penanggulangan kemiskinan tidak hanya melalui pendekatan ekonomi, namun juga menyentuh pada pendekatan
sosial, budaya, politik, hukum dan kelembagaan.
Kemiskinan
menjadi tanggung jawab kita bersama, tidak hanya
pemerintah tapi juga tanggung jawab swasta dan masyarakat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan tersebut di atas,
dapat kita ambil kesimpulan bahwa
kemiskinan adalah suatu keadaan masyarakat yang berada dalam hidup yang serba kekurangan akibat rendahnya
penghasilan yang didapat dalam
bekerja, yang mana banyaknya penduduk menjadi
persoalan utama rendahnya anggaran gaji yang diberikan untuk para pekerja/karyawan itu.
Menurut
Maltus, terdapat 3 unsur yang
menyebabkan terjadinya
pertambahan penduduk, yakni, fertibilitas atau kelahiran, mortalitas atau kematian, dan migrasi. Dan
menurutnya pula, pertumbuhan penduduk
jika tidak dapat dikendalikan maka sumber daya
akan habis secara perlahan-lahan yang berakibat pada banyaknya kemunculan penyakit, kelaparan, dan penderitaan lainnya.
Ada
beberapa cara untuk mengatasi kepadatan penduduk di Indonesia, salah satunya adalah pendapat dari Agung. Menurutnya,
program KB dapat menjadi salah satu usaha untuk menekan laju kependudukan, sebagai satu-satunya cara disamping tidak berhasilnya program transmigrasi yang
dilayang oleh pemerintah pada
tahun-tahun sebelumnya. Jika program KB ini tidak
juga terealisasi, maka akan mengakibatkan keadaan masyarakat yang lebih buruk lagi dari sebelumnya.
Dalam
menangani permasalahan kemiskinan yang terjadi di kota Palembang ini pun bukan hanya merupakan tanggung
jawab pemerintah semata. Namun
pihak swasta dan masyarakat pun juga harus
ikut berperan masing-masing untuk menciptakan dan menggunakan suatu lapangan pekerjaan dengan baik.
Dengan
adanya program untuk menuntaskan kemiskinan, pemerintah
kota Palembang harus bertindak tegas dalam pemberiannya.
Seperti contohnya ialah program raskin yang dalam pengembangannya kurang berhasil, karena adanya masyarakat
yang beranggapan bahwa “saya juga
orang miskin”.
Kurangnya sikap sosial yang terjadi
kini membuat semakin banyak masyarakat
“non miskin” yang merasa ingin mendapatkan bantuan pemerintah tersebut.
Maka
permasalahan kependudukan yang menjadi penyebab utama kemiskinan memang harus segera ditangani, dan diharapkan semua pihak dapat ikut membantu
menekan laju pertumbuhan
penduduk dengan ber-KB. Jika masalah ini tidak segera
ditangani, maka dikhawatirkan semakin banyak penduduk, maka semakin lambat dan mungkin dapat menghambat pembangunan kota Palembang sebagai
salah satu kota metropolitan di
Indonesia.
3.2 Saran
1) Pemerintah
Pemeritah daerah kota Palembang sebagai
satu-satunya instansi
utama di kota Plembang, harus memberikan program yang cocok dengan kondisi yang
terjadi pada masyarakat Palembang.
Menyikapi dengan tegas segala persoalan yang mengikat
pada kependudukan yang terus meningkat per tiap tahunnya.
2) Pihak Swasta
Pihak swasta berada pada posisi penengah dalam
masalah kemiskinan yang terjadi. Karena,
lowongan pekerjaan yang telah mereka
ciptakan, juga tergantung pada keputusan pemerintah. Dan untuk melaksanakan tujuannya,
pihak swasta memerlukan karyawan
yang membutuhkan pekerjaan untuk hidup mereka. Sehingga
diharapkan pihak swasta bisa mengutamakan pula anggaran
gaji/pendapatan untuk para karyawannya yang tentunya
dengan sifat saling menguntungkan.
3) Masyarakat
Sebagai warga negara tentunya masyarakat harus tunduk kepada peraturan yang
ada. Masyarakat pun harus mengerti kondisi
daerah dari segi ekonomi maaupun sosial. Dan tentunya selalu mendukung program-program yang
telah diriliskan oleh pemerintah.

0 Komentar untuk "KTI : Menetralisasikan Kemiskinan dengan Menanggulangi Terjadinya Kepadatan Penduduk di Kota Palembang"