Bismillahirrohmanirrohim...
Author POV
"Shan, kamu berangkat sekolah sama Viny aja ya. Abang mau nganterin Kak Ve ke bandara." ujar seorang lelaki yang akan bersiap pergi.
"Oke Bang. Kak Ve, nanti kalau udah sampe dan ketemu sama idola Shania, kabarin ya! Hehe." ucap gadis remaja yang sedang memakan sarapannya.
"Iya iya. Coba kalau Shania libur sekolah, pasti kakak ajak."
"Oh. Cuma dia aja gitu." sindir gadis remaja lain dengan datar.
"Viny juga kok. Jangan ngambek gitu dong, nanti cantiknya hilang loh." sambil mengusap rambut gadis itu.
"Udah, udah. Ve, Deva berangkat sana nanti ketinggalan pesawat lagi." ujar sang Mama menasehati.
"Ve, maaf ya, Mama dan Ayah nggak bisa ikut nganterin kamu ke bandara." kata sang ayah merasa bersalah.
"Iya, nggak papa Ma, Yah. Ve ngerti kok."
"Hati-hati di sana ya. Kalau ada apa-apa hubungi kita." kata Melody lagi sambil mengecup dahi anaknya.
"Ve berangkat dulu ya. Assalammu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalaam.."
Disinilah
sebuah keluarga yang sangat lengkap dan terlihat harmonis. Kedua orang tua yang
sungguh menyayangi anak-anaknya begitupun sebaliknya. Perbedaan darah tak
menjadi alasan untuk saling membenci antar anggota keluarga. Ya! Tepat 2 tahun
yang lalu, Farish Natha, seorang lelaki yang berprofesi sebagai karyawan
pabrik, menikah dengan Melody Laksani yang merupakan seorang wanita kaya raya.
Semua hal dalam keluarga ini berjalan dengan baik. Namun kebencian tetap saja
ada dan selalu menyelimuti hati seorang anak broken home.
"Kak
Viny, kita berangkat yuk! Udah siang nih. Nanti kita telat." ujar Shania
setelah menghabiskan sarapannya.
"Bisa sabar nggak sih loe! Kalau mau cepet, pergi aja sendiri sana!" jawab Viny, membentak.
"Viny! Jaga omongan kamu! Shania udah baik ngingetin, kamu malah ngebentak." marah sang Mama.
"Terus aja Mama belain anak itu!" ujar Viny lalu keluar rumah menuju mobilnya untuk berangkat ke sekolah.
"Ayah, Mama, Shania pergi ya." pamit Shania kepada kedua orang tuanya.
"Bisa sabar nggak sih loe! Kalau mau cepet, pergi aja sendiri sana!" jawab Viny, membentak.
"Viny! Jaga omongan kamu! Shania udah baik ngingetin, kamu malah ngebentak." marah sang Mama.
"Terus aja Mama belain anak itu!" ujar Viny lalu keluar rumah menuju mobilnya untuk berangkat ke sekolah.
"Ayah, Mama, Shania pergi ya." pamit Shania kepada kedua orang tuanya.
Shania POV
Pagi ini untuk pertama kalinya aku berangkat ke sekolah bersama Kak Viny. Biasanya aku diantar oleh Bang Deva dengan menggunakan sepeda motornya dan pulang menggunakan angkutan umum. Tetapi karena pagi ini Ia akan mengantarkan Kak Ve ke bandara, sehingga aku pergi ke sekolah bersama salah satu kakak tiriku ini.
Pagi ini untuk pertama kalinya aku berangkat ke sekolah bersama Kak Viny. Biasanya aku diantar oleh Bang Deva dengan menggunakan sepeda motornya dan pulang menggunakan angkutan umum. Tetapi karena pagi ini Ia akan mengantarkan Kak Ve ke bandara, sehingga aku pergi ke sekolah bersama salah satu kakak tiriku ini.
"Kak,
maafin aku ya, gara-gara aku, kakak pagi-pagi udah kena marah Mama."
kataku memulai pembicaraan di dalam mobil saat di tengah perjalanan menuju
sekolah.
Namun yang
ku ajak bicara hanya diam dan terus berkonsentrasi pada kemudinya.
"Kak...."
"Udah deh! Loe bisa diem nggak sih! Masih untung gue mau nebengin loe. Mending loe turun deh dari mobil gue sekarang!" ujar Kak Viny dengan nada tinggi sambil memberhentikan mobil.
"Turun? Tapi kak, jarak dari sini ke sekolah kan masih jauh." kataku bingung.
"Masa bodo! Cepetan turun!"
"Udah deh! Loe bisa diem nggak sih! Masih untung gue mau nebengin loe. Mending loe turun deh dari mobil gue sekarang!" ujar Kak Viny dengan nada tinggi sambil memberhentikan mobil.
"Turun? Tapi kak, jarak dari sini ke sekolah kan masih jauh." kataku bingung.
"Masa bodo! Cepetan turun!"
Aku akhirnya menuruti kemauannya. Kemudian mobil Kak Viny berlalu dari
hadapanku. Dari pada terlambat, aku pun memilih untuk menaiki angkot.
Shania POV
Sudah 2 tahun berlalu. Selama itu pula aku kini telah memiliki hal yang sangat ku inginkan, yaitu keluarga yang utuh bersama sosok seorang ibu. Ayah yang dulunya hanya seorang karyawan pabrik, menikah dengan Mama yang merupakan pemilik pabrik tempat Ayah bekerja. Hingga saat ini aku bahkan tidak mengetahui atas dasar apa Mama mau menikah dengan Ayah yang notabennya adalah bawahannya sendiri.
Sudah 2 tahun berlalu. Selama itu pula aku kini telah memiliki hal yang sangat ku inginkan, yaitu keluarga yang utuh bersama sosok seorang ibu. Ayah yang dulunya hanya seorang karyawan pabrik, menikah dengan Mama yang merupakan pemilik pabrik tempat Ayah bekerja. Hingga saat ini aku bahkan tidak mengetahui atas dasar apa Mama mau menikah dengan Ayah yang notabennya adalah bawahannya sendiri.
Sebelum menikah dengan Mama, Ayah merupakan orang tua tunggal untuk aku dan
Bang Deva. Ibu kandungku telah meninggal saat aku lahir di dunia ini. Ayah
adalah sosok yang sangat aku kagumi, pahlawan kami berdua. Merangkap sebagai
seorang ayah dan ibu, dia selalu mengurus kami dari kecil hingga dewasa seperti
ini. Namun bukan berarti aku tak menginginkan sosok ibu untuk hadir di
sampingku. Saat aku mendengar Ayah akan menikah, aku sangat senang. Itu berarti
aku akan memiliki seorang ibu. Sampai saat ini, keluarga kami pun bersatu dan
sangat harmonis. Tetapi sesuatu hal yang baik pasti akan ada saja yang kurang.
Deva POV
"Dev, ini sudah 2 tahun. Tapi Viny masih juga belum berubah." ujar Kak Ve setelah kami sampai di bandara.
"Mungkin dia masih sulit buat nerima kenyataan ini kak. Di umurnya yang masih belia, tapi sudah harus dihadapkan dengan masalah orang tua." balasku dengan lembut.
"Kakak jadi takut buat ninggalin dia. Walaupun Kakak cuma beberapa bulan di Jepang, tapi Kakak jadi nggak bisa ngawasin dia secara langsung." ucapnya sedih.
"Udah, Kakak nggak usah khawatir. Ingat Kak, Viny itu adik aku juga, sama seperti Shania. Aku janji bakal jagain Viny apapun yang terjadi." ujarku menenangkan sambil memeluknya.
"Oke deh, Kakak percaya sama kamu. Selama Kakak di Jepang, tolong jaga Shania dan Viny ya." balasnya melepas pelukan, lalu menatap wajahku.
"Siap bos!" ujarku sambil memperagakan gerakan hormat padanya.
"Dasar si kapten! Ya udah Kakak pergi ya. Ingat pesan Kakak, Dev."
Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk yakin.
"Hati-hati di sana ya, Kak."
Setelah ku lihat pesawat yang dinaiki Kak Veranda telah lepas landas, aku pun kemudian pergi menuju mobil untuk pulang ke rumah dan bersiap-siap ke kampus.
"Dev, ini sudah 2 tahun. Tapi Viny masih juga belum berubah." ujar Kak Ve setelah kami sampai di bandara.
"Mungkin dia masih sulit buat nerima kenyataan ini kak. Di umurnya yang masih belia, tapi sudah harus dihadapkan dengan masalah orang tua." balasku dengan lembut.
"Kakak jadi takut buat ninggalin dia. Walaupun Kakak cuma beberapa bulan di Jepang, tapi Kakak jadi nggak bisa ngawasin dia secara langsung." ucapnya sedih.
"Udah, Kakak nggak usah khawatir. Ingat Kak, Viny itu adik aku juga, sama seperti Shania. Aku janji bakal jagain Viny apapun yang terjadi." ujarku menenangkan sambil memeluknya.
"Oke deh, Kakak percaya sama kamu. Selama Kakak di Jepang, tolong jaga Shania dan Viny ya." balasnya melepas pelukan, lalu menatap wajahku.
"Siap bos!" ujarku sambil memperagakan gerakan hormat padanya.
"Dasar si kapten! Ya udah Kakak pergi ya. Ingat pesan Kakak, Dev."
Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk yakin.
"Hati-hati di sana ya, Kak."
Setelah ku lihat pesawat yang dinaiki Kak Veranda telah lepas landas, aku pun kemudian pergi menuju mobil untuk pulang ke rumah dan bersiap-siap ke kampus.
Author POV
"Shan, pulang sekolah nanti kita ke bioskop yuk." ajak seorang remaja lelaki sambil berdiri di dekat bangku Shania.
"Waaah aku ikut dong, Bob." sahut gadis yang duduk di bangku sebelah barisan Shania bernama Elaine.
"Duh, maaf ya Boby. Aku setelah pulang sekolah ini ada kerjaan lain. Coba bareng Elaine aja tuh." tolak Shania dengan sopan.
"Tapi kan akunya ngajak kamu. Emang kerjaan apa sih? Ke kantor redaksi lagi?" tanya Boby kecewa.
"Iya, aku hari ini mau ngajuin naskah ke redaksi. Maaf sekali lagi ya Bob. Bukan maksud nolak sih."
"Ya udah deh nggak papa." balas Boby yang akan kembali menuju bangku tempat Ia duduk.
"Bareng aku aja Bob!" ujar Elaine semangat.
"Emmm, maaf deh. Lain kali aja." tolak Boby melanjutkan jalannya.
"Shan, pulang sekolah nanti kita ke bioskop yuk." ajak seorang remaja lelaki sambil berdiri di dekat bangku Shania.
"Waaah aku ikut dong, Bob." sahut gadis yang duduk di bangku sebelah barisan Shania bernama Elaine.
"Duh, maaf ya Boby. Aku setelah pulang sekolah ini ada kerjaan lain. Coba bareng Elaine aja tuh." tolak Shania dengan sopan.
"Tapi kan akunya ngajak kamu. Emang kerjaan apa sih? Ke kantor redaksi lagi?" tanya Boby kecewa.
"Iya, aku hari ini mau ngajuin naskah ke redaksi. Maaf sekali lagi ya Bob. Bukan maksud nolak sih."
"Ya udah deh nggak papa." balas Boby yang akan kembali menuju bangku tempat Ia duduk.
"Bareng aku aja Bob!" ujar Elaine semangat.
"Emmm, maaf deh. Lain kali aja." tolak Boby melanjutkan jalannya.
"Gue heran deh Shan sama
loe, Boby ngajak loe jalan malah loe tolak. Lagian ya, loe kan sekarang dah
berkecukupan masih aja ngirim-ngirim gitu." bisik Nabilah, teman sebangku
sekaligus sahabat Shania sejak SMP.
"Nab, ini bukan masalah material, tapi hobi. Menulis itu udah hobi aku sejak dulu, kamu ngerti kan. Dan kalau naskahku keterima sama pihak redaksi, itu adalah suatu kepuasan buat aku. Apalagi kalau tulisan itu diterima, kita bakal dibayar, uangnya kan bisa....."
"Iye iye dah. Kalah mulu gue mah kalau ngomong sama loe." ujar Nabilah memotong penjelasan Shania. Shania hanya tersenyum menanggapi sahabatnya itu.
"Nab, ini bukan masalah material, tapi hobi. Menulis itu udah hobi aku sejak dulu, kamu ngerti kan. Dan kalau naskahku keterima sama pihak redaksi, itu adalah suatu kepuasan buat aku. Apalagi kalau tulisan itu diterima, kita bakal dibayar, uangnya kan bisa....."
"Iye iye dah. Kalah mulu gue mah kalau ngomong sama loe." ujar Nabilah memotong penjelasan Shania. Shania hanya tersenyum menanggapi sahabatnya itu.
"Bob, kapan sih kamu buka
hati buat aku? Lihat aku Bob! Selalu aja Shania terus. Apa sih kelebihan
dia?" batin Elaine dengan hati membara sambil menatap Boby yang sedang
duduk di bangkunya.
Viny POV
Semenjak Papa dan Mama bercerai, aku seperti anak yang kehilangan arah. Aku dan kakakku ikut dengan Mama, sedangkan Papaku pergi dengan wanita lain. Belum genap 1 tahun perceraian itu, Mama malah memutuskan untuk menikah dengan lelaki duda yang hanya bekerja sebagai karyawan pabrik milik Mamaku. Lelaki itu dan 2 orang anaknya tinggal di rumahku. Hingga saat ini aku tidak pernah menganggap orang-orang baru itu. Mereka seperti benalu di kehidupan keluarga kami.
Viny POV
Semenjak Papa dan Mama bercerai, aku seperti anak yang kehilangan arah. Aku dan kakakku ikut dengan Mama, sedangkan Papaku pergi dengan wanita lain. Belum genap 1 tahun perceraian itu, Mama malah memutuskan untuk menikah dengan lelaki duda yang hanya bekerja sebagai karyawan pabrik milik Mamaku. Lelaki itu dan 2 orang anaknya tinggal di rumahku. Hingga saat ini aku tidak pernah menganggap orang-orang baru itu. Mereka seperti benalu di kehidupan keluarga kami.
Apalagi Mama, aku sangat iri ketika Mama sangat perhatian pada anak perempuan
dari lelaki itu. Caranya mencari perhatian kepada Mama, KakVe, dan aku,sungguh
membuatku muak.
Mulai hari ini Kak Ve pergi ke Jepang selama 3 bulan. Sebenarnya aku tidak
mengijinkannya untuk pergi, karena aku pasti akan merasa kesepian saat di rumah.
Namun demi kebaikan kuliahnya, aku pun rela.
"Hmmm, mulai hari ini Kak Ve
nggak ada di rumah. Bakal bete deh gue." batinku saat bel pulang sekolah
telah berbunyi.
"Vin, jalan yuk! Di mall yang waktu itu katanya lagi ada diskon loh." ajak sahabatku Noella.
"Yang bener?"
"Iya Vin, lumayan gede diskonnya. Kemaren-kemaren loe nyari yang diskonan kan haha." sambung Yona sahabatku juga.
"Oke, yuk! Gue juga males banget di rumah."
Aku pun mengikuti ajakan kedua sahabatku ini. Dari pada di rumah, hanya dapat kebosanan.
"Vin, jalan yuk! Di mall yang waktu itu katanya lagi ada diskon loh." ajak sahabatku Noella.
"Yang bener?"
"Iya Vin, lumayan gede diskonnya. Kemaren-kemaren loe nyari yang diskonan kan haha." sambung Yona sahabatku juga.
"Oke, yuk! Gue juga males banget di rumah."
Aku pun mengikuti ajakan kedua sahabatku ini. Dari pada di rumah, hanya dapat kebosanan.
Author POV
"Udah jam 7 malem gini Kak Viny kok belum pulang juga ya? Atau aku telp aja?" batin Shania bingung saat melihat jam di ruang kelurga.
"Udah jam 7 malem gini Kak Viny kok belum pulang juga ya? Atau aku telp aja?" batin Shania bingung saat melihat jam di ruang kelurga.
Lalu terdengar langkah kaki
seseorang.
"Halo dek. Napa tuh muka
risau banget?" tanyanya pada Shania.
"Udah pulang Bang? Kak Viny nih kok belum pulang-pulang ya dari tadi?"
"Hah? Masa? Ayah sama Mama belum pulang kan?" Deva ikut cemas.
"Belum. Apa telpon aja ya? Daripada pulang-pulang dia kena marah Mama." ujar Shania.
"Ya udah Abang aja yang telpon."
"Udah pulang Bang? Kak Viny nih kok belum pulang-pulang ya dari tadi?"
"Hah? Masa? Ayah sama Mama belum pulang kan?" Deva ikut cemas.
"Belum. Apa telpon aja ya? Daripada pulang-pulang dia kena marah Mama." ujar Shania.
"Ya udah Abang aja yang telpon."
Namun saat Deva akan menekan
tombol call, terdengarlah suara sang mama dari arah ruang tamu.
"Assalammu'alaikum."
"Wa'alaikumsalaam." mereka berdua menjawab.
"Duh Bang, gimana nih?"
"Udah kamu tenang."
"Wa'alaikumsalaam." mereka berdua menjawab.
"Duh Bang, gimana nih?"
"Udah kamu tenang."
"Loh Dev, baru pulang
kuliah?" tanya Melody saat melihat putranya masih memakai tas.
"Iya nih, Ma. Ayah dan Mama istirahat dulu aja di kamar. Nanti kita bikinin minum." kata Deva.
"Kamu kenapa sih Dev, kek orang tegang gitu?" tanya Farish sang ayah setelah mengikuti istrinya, duduk di sofa.
"Iya nih, Ma. Ayah dan Mama istirahat dulu aja di kamar. Nanti kita bikinin minum." kata Deva.
"Kamu kenapa sih Dev, kek orang tegang gitu?" tanya Farish sang ayah setelah mengikuti istrinya, duduk di sofa.
Saat Deva akan menjawab
pertanyaan ayahnya, terlihat Viny dari arah pintu sambil membawa banyak tas
berisi belanjaannya.
"Viny! Kamu baru
pulang??"
"Iya Ma." jawab Viny malas.
"Hebat kamu ya! Kamu itu anak perempuan! Nggak pantes keluyuran malem-malem gini. Masih pakai baju sekolah pula." marah Melody pada anaknya.
"Udah lah, Ma. Viny, masuk sana ke kamar." ucap Farish.
"Sebentar Pa, anak ini perlu dinasehati. Sudah beberapa kali dia pulang malam."
"Iya Ma." jawab Viny malas.
"Hebat kamu ya! Kamu itu anak perempuan! Nggak pantes keluyuran malem-malem gini. Masih pakai baju sekolah pula." marah Melody pada anaknya.
"Udah lah, Ma. Viny, masuk sana ke kamar." ucap Farish.
"Sebentar Pa, anak ini perlu dinasehati. Sudah beberapa kali dia pulang malam."
Viny hanya berdiri diam dan tetap
memasang muka datar.
"Kak Viny kan juga butuh
refreshing, Ma. Kan udah kelas 12. Bentar lagi UN. Mumpung ada waktu luang. Ya
kan, Kak?" bela Shania yang lalu berdiri di dekat Viny.
"Loe nggak usah sok belain
gue deh! Loe seneng kan kalau gue menderita! Dasar anak miskin nggak punya
harga diri!"
Tiba-tiba Viny mendorong tubuh
Shania hingga hampir saja kepala Shania mengenai sudut meja, jika Deva tak
memegang tubuhnya.
"Viny!!!" hardik
Melody.
"Anak Mama tuh siapa sih? Aku atau dia? Semenjak ada mereka, Mama selalu aja marahin aku."
"Viny! Kamu nggak boleh ngomong seperti itu! Shania itu adik kamu!" balas Melody yang tak bisa menahan amarahnya.
"Aku nggak punya adik! Dan sampai kapan pun mereka bukan siapa-siapa aku!" balas Viny lalu berlari ke kamarnya di lantai atas.
"Shan, kamu nggak papa kan? " tanya Melody sambil menghampiri Shania.
"Nggak papa kok, Ma. Hmmm. Mama nggak sepatutnya juga ngomong kayak gitu ke Kak Viny. Bagaimana pun juga Mama harus bisa ngertiin dia" nasehat Shania pada mamanya.
"Shania ke kamar dulu.." lanjut Shania kemudian pergi ke kamarnya.
"Anak Mama tuh siapa sih? Aku atau dia? Semenjak ada mereka, Mama selalu aja marahin aku."
"Viny! Kamu nggak boleh ngomong seperti itu! Shania itu adik kamu!" balas Melody yang tak bisa menahan amarahnya.
"Aku nggak punya adik! Dan sampai kapan pun mereka bukan siapa-siapa aku!" balas Viny lalu berlari ke kamarnya di lantai atas.
"Shan, kamu nggak papa kan? " tanya Melody sambil menghampiri Shania.
"Nggak papa kok, Ma. Hmmm. Mama nggak sepatutnya juga ngomong kayak gitu ke Kak Viny. Bagaimana pun juga Mama harus bisa ngertiin dia" nasehat Shania pada mamanya.
"Shania ke kamar dulu.." lanjut Shania kemudian pergi ke kamarnya.
Melody POV
Sampai kapan semua akan seperti ini. Anakku Viny masih belum bisa menerima keadaan ini. Wajar memang, karena saat aku dan papanya berpisah, dia masih berumur 15 tahun. Usia dimana anak seumurannya masih bersifat labil, dan butuh perhatian orang tua.
Sampai kapan semua akan seperti ini. Anakku Viny masih belum bisa menerima keadaan ini. Wajar memang, karena saat aku dan papanya berpisah, dia masih berumur 15 tahun. Usia dimana anak seumurannya masih bersifat labil, dan butuh perhatian orang tua.
Tetapi apa bedanya dengan Shania
dan Deva yang sejak kecil hanya hidup bersama Farish, yang kini telah menjadi
suamiku. Bahkan Shania tak pernah sekali pun merasakan dekapan ibu kandungnya.
Itulah yang membuat aku sangat menyayanginya seperti darah dagingku sendiri.
Pernikahanku dengan Farish sudah
berusia 2 tahun. Farish memang dulu merupakan karyawan di pabrik yang aku
miliki, dan kini ia menjadi manager di pabrikku. Sebenarnya aku telah
mengenalnya sejak kami masuk SMA. Aku dan dia hanya sebatas sahabat. Saat
istrinya mengandung Shania, dia tak punya pekerjaan, sehingga aku
menyarankannya untuk bekerja di pabrikku. Tetapi ia hanya ingin bekerja di
bagian karyawan saja.
Perceraian itu terjadi begitu
saja. Aku dan mantan suamiku bercerai karena tidak ada lagi kecocokan antara
kami berdua. Kami saling sibuk dengan usaha yang telah kami kembangkan
masing-masing. Dia pun diam-diam telah berselingkuh dengan wanita lain.
Untungnya Farish selalu ada untukku disaat aku butuh ketenangan.
Entah sudah keberapa kalinya Viny
berkata kasar pada Shania. Dia memang membenci Farish, Deva, dan Shania sejak
mereka hadir di dalam keluargaku. Namun hanya kepada Shania lah dia berani
berkata kasar. Dan Shania masih saja bisa sabar menghadapi kakaknya itu. Ya
tuhan.. Terbuat dari apa hati anak manis ini..
Pagi ini kembali dimulai segala
aktivitas.
"Dev, si Shania mana?"
tanyaku pada Deva saat dia sudah berada di meja makan.
"Masih di kamar mungkin, Ma. Bentar Deva panggil." Deva pun menuju ke kamar Shania yang bersebelahan dengan kamar Ve.
"Masih di kamar mungkin, Ma. Bentar Deva panggil." Deva pun menuju ke kamar Shania yang bersebelahan dengan kamar Ve.
Beberapa saat kemudian Deva dan
Shania pun turun.
"Kamu kenapa dek? Kok lemes
gitu?" tanya Farish saat Shania akan mulai memakan sarapan.
"Iya, pucat pula. Kamu sakit?" tanyaku juga yang kemudian memegang keningnya.
"Iya, pucat pula. Kamu sakit?" tanyaku juga yang kemudian memegang keningnya.
Panas. Anak ini sakit?
"Nggak papa kok Yah, Ma.
Cuma pusing aja. Nanti juga hilang." jawabnya enteng.
"Kalau gitu mending kamu nggak usah sekolah ya hari ini."
"Iya. Dibilangin dari tadi ngeyel." sambung Deva.
"Serius deh nggak papa. Hari ini ada ulangan fisika, kan sayang kalau susulan. Nilainya bisa dikurangi." jelas Shania.
"Kalau gitu mending kamu nggak usah sekolah ya hari ini."
"Iya. Dibilangin dari tadi ngeyel." sambung Deva.
"Serius deh nggak papa. Hari ini ada ulangan fisika, kan sayang kalau susulan. Nilainya bisa dikurangi." jelas Shania.
Jangan heran. Shania adalah anak
penerima beasiswa sejak dia SMP. Namun di tingkat SMA ini, karena dia kini
sudah menjadi tanggung jawabku juga, sehingga dia tidak mengambil beasiswa itu.
Tidak berbeda jauh dengan Deva. Walaupun Deva tidak pernah mendapat beasiswa,
tetapi dia bisa masuk ke perguruan tinggi tanpa melalui tes.
"Aku pergi." ucap Viny
tiba-tiba. Anak ini.
"Viny. Mulai hari ini Shania pergi sekolah bareng kamu." ujarku yang membuatnya kaget.
"Apaaa?? Tapi maa..."
"Nggak pake tapi-tapian. Dan pulang sekolah juga harus bareng. Mama nggak mau tau." ucapku lagi sebelum dia memotong ucapanku.
"Nggak usah, Ma. Biar Deva aja yang nganter. Kan dari dulu emang gitu." ujar Deva.
"Kan Mama bilang mulai saat ini. Lagian kasihan kamu. Jarak sekolah ke kampus kamu kan jauh banget."
"Nggak usah deh, Ma. Shania bareng Bang Deva aja."
"Viny. Mulai hari ini Shania pergi sekolah bareng kamu." ujarku yang membuatnya kaget.
"Apaaa?? Tapi maa..."
"Nggak pake tapi-tapian. Dan pulang sekolah juga harus bareng. Mama nggak mau tau." ucapku lagi sebelum dia memotong ucapanku.
"Nggak usah, Ma. Biar Deva aja yang nganter. Kan dari dulu emang gitu." ujar Deva.
"Kan Mama bilang mulai saat ini. Lagian kasihan kamu. Jarak sekolah ke kampus kamu kan jauh banget."
"Nggak usah deh, Ma. Shania bareng Bang Deva aja."
Ku lihat Viny hanya berdiri
sambil menahan emosi. Bagaimana pun dia, dia tak pernah bisa menolak permintaanku.
"Udah sana. Nanti
telat." kali ini suamiku membuka suara. Aku pun tersenyum.
Akhirnya Shania kemudian pamit
kepada kami. Dan pergi bersama Viny. Semoga usaha kami ini berhasil.
Farish POV
Semoga upaya yang telah ku diskusikan dengan istriku ini berhasil. Ya, upaya agar Viny bisa dekat dengan Shania, atau lebih tepatnya bisa menyayangi Shania sebagai adiknya. Selama ini Shania selalu pergi sekolah diantar oleh Deva, abangnya. Sehingga semalam kami tercetus ide untuk merencanakan hal ini. Kami berdua menyuruh agar mulai saat ini Shania pergi sekolah bersama Viny. Inilah satu-satunya upaya supaya mereka bisa dekat.
Farish POV
Semoga upaya yang telah ku diskusikan dengan istriku ini berhasil. Ya, upaya agar Viny bisa dekat dengan Shania, atau lebih tepatnya bisa menyayangi Shania sebagai adiknya. Selama ini Shania selalu pergi sekolah diantar oleh Deva, abangnya. Sehingga semalam kami tercetus ide untuk merencanakan hal ini. Kami berdua menyuruh agar mulai saat ini Shania pergi sekolah bersama Viny. Inilah satu-satunya upaya supaya mereka bisa dekat.
Sejak aku dan anak-anakku datang
ke rumah ini, Viny sudah tidak menyukai kedatangan kami. Dia terlihat sangat
membenci Shania. Mungkin karena dia iri dengan perhatian Melody terhadap Shania
yang hanya merupakan anak tiri.
Hidupku memang berliku. Menjadi
orang tua tunggal bagi 2 orang anakku sejak 16 tahun yang lalu, saat Shania,
bidadari kecilku lahir. Istriku Shinta, meninggal saat melahirkannya. Aku tak
pernah menyalahkan Shania atas meninggalnya istriku. Ini sudah takdir dan
kehendak tuhan. Tugasku adalah tetap membesarkan serta menyayangi mereka hingga
menjadi ihsan yang berguna.
Syukurnya, mereka berdua selalu
membuatku bangga dengan prestasi mereka sejak kecil hingga sekarang.
"Yah, semoga aja upaya kita
ini berhasil. Dengan seringnya Shania pergi bareng Viny, mereka pasti jadi
sering juga bercerita." ucap istriku setelah hanya kami berdua yang ada di
meja makan.
"Iya, Ma. Ayah juga harapnya begitu. Dari dulu Shania pengen banget deket sama Viny. Tapi... Vinynya..."
"Oh iya, Yah, Viny sebentar lagi ulang tahun yang ke-17." ujarnya.
"Hah? Yang bener? Gimana kalau kita rayakan. Kan sweet seventeen. Ajak temen-temennya gitu ke rumah." saranku.
"Iya juga, Yah. Nanti deh setelah pulang, kita bicarain ke anaknya. Mumpung masih seminggu lagi."
"Iya, Ma. Ayah juga harapnya begitu. Dari dulu Shania pengen banget deket sama Viny. Tapi... Vinynya..."
"Oh iya, Yah, Viny sebentar lagi ulang tahun yang ke-17." ujarnya.
"Hah? Yang bener? Gimana kalau kita rayakan. Kan sweet seventeen. Ajak temen-temennya gitu ke rumah." saranku.
"Iya juga, Yah. Nanti deh setelah pulang, kita bicarain ke anaknya. Mumpung masih seminggu lagi."
Author POV
"Haduuuuh. Bentar lagi bel nih.." keluh Shania yang sedang duduk di kursi angkot.
"Haduuuuh. Bentar lagi bel nih.." keluh Shania yang sedang duduk di kursi angkot.
Dengan diperintahkannya Viny
untuk pergi bersama Shania, ternyata tak membuat Viny sepenuhnya menuruti
perkataan sang Mama. Seperti kemarin, setelah beberapa meter dari rumah, Viny
menurunkan Shania dari mobil, lalu pergi meninggalkannya.
"Alhamdulillah. Belum
ditutup.." lalu Shania pun bergegas memasuki gerbang sekolah.
"Shania!!!" seseorang memanggilnya. Ternyata dia adalah guru yang sedang bertugas piket hari ini. Shania menoleh.
"Kamu tumben telat? Kenapa?" lanjutnya.
"Emmm, Pak Nobi... Maaf Pak, saya telat. Tadi saya ketinggalan angkot. Tapi ini belum telat banget kan Pak? Pintu gerbang aja masih dibuka." jelas Shania.
"Ini sudah masuk jam pelajaran, Shania!" kata Pak Nobi sambil menunjukkan jam tangannya pasa Shania.
"Ya sudah, sebagai hukumannya, sekarang kamu lari 10 kali keliling lapangan."
"Tapi pak..."
"Tidak ada tapi-tapian. Walaupun kamu murid kesayangan Bapak, kamu tetap Bapak hukum. Ayo cepat!"
"Iya pak..."
"Shania!!!" seseorang memanggilnya. Ternyata dia adalah guru yang sedang bertugas piket hari ini. Shania menoleh.
"Kamu tumben telat? Kenapa?" lanjutnya.
"Emmm, Pak Nobi... Maaf Pak, saya telat. Tadi saya ketinggalan angkot. Tapi ini belum telat banget kan Pak? Pintu gerbang aja masih dibuka." jelas Shania.
"Ini sudah masuk jam pelajaran, Shania!" kata Pak Nobi sambil menunjukkan jam tangannya pasa Shania.
"Ya sudah, sebagai hukumannya, sekarang kamu lari 10 kali keliling lapangan."
"Tapi pak..."
"Tidak ada tapi-tapian. Walaupun kamu murid kesayangan Bapak, kamu tetap Bapak hukum. Ayo cepat!"
"Iya pak..."
Shania pun lalu berlari
mengelilingi lapangan bersama para murid lainnya yang juga terlambat.
"Loh, Shania. Dia
telat?" batin salah seorang murid yang sedang berdiri di depan kelas. Dia
lalu berlari masuk ke kelasnya itu.
"Nab, Nab! Shania telat!" sahutnya pada temannya Nabilah.
"Hah? Yang bener Gab? Masa sih dia telat? Gue kira dia sakit?" kata Nabilah tak percaya.
"Iya, gue juga kaget. Baru kali ini dia telat. Tuh sekarang lagi disuruh keliling lapangan sama Pak Nobi."
"Keliling lapangan?"
"Iyaaaa. Yuk liat di luar. Mumpung Buk Nat belum masuk." ajak murid tadi, Gaby.
"Nab, Nab! Shania telat!" sahutnya pada temannya Nabilah.
"Hah? Yang bener Gab? Masa sih dia telat? Gue kira dia sakit?" kata Nabilah tak percaya.
"Iya, gue juga kaget. Baru kali ini dia telat. Tuh sekarang lagi disuruh keliling lapangan sama Pak Nobi."
"Keliling lapangan?"
"Iyaaaa. Yuk liat di luar. Mumpung Buk Nat belum masuk." ajak murid tadi, Gaby.
Nabilah POV
Ternyata benar kata Gaby, Shania telat. Sejak SMP, dia itu tidak pernah sekali pun telat. Ya, dia anaknya disiplin.
Ternyata benar kata Gaby, Shania telat. Sejak SMP, dia itu tidak pernah sekali pun telat. Ya, dia anaknya disiplin.
"Shan!! Semangat ya!!"
teriakku menyemangatinya dari depan kelas.
"Semangat Shan...!!" Gaby pun ikut-ikutan memberi semangat.
"Semangat Shan...!!" Gaby pun ikut-ikutan memberi semangat.
Dia lalu menoleh dan tersenyum ke
arah kami. Aku masih bingung, apa penyebab dia bisa terlambat hari ini. Hingga
kini kami masih terus memperhatikannya di lapangan dari depan kelas. Sepertinya
Ibu Natalia, guru Bahasa Inggris kami tidak mengajar hari ini.
"Nab! Shania pingsan!"
ucap Gaby membuyarkan lamunanku.
Aku melihat dan mendapati Shania
pingsan di lapangan. Kami berdua lalu berlari menghampirinya. Terlihat Pak Nobi
dan beberapa murid yang terlambat, mengangkat Shania menuju UKS.
**********************************************************************************
"Bob, pulang sekolah ini
kamu nggak kemana-mana kan?" tanya Elaine pada Boby. Boby hanya
mengangguk.
"Kita jalan yuk.. ke bioskop. Ada film baru. Kamu pasti suka." tawar Elaine dengan semangat.
"Ehm....."
"Bob! Gue lihat tadi si Shania pingsan." ucap seorang murid laki-laki menghampiri Boby.
"Hah? Pingsan? Dimana dia sekarang, No?"
"Di UKS. Tadi habis dihukum keliling lapangan sama Pak Nobi." jawab teman Boby tadi bernama Nino.
"Yaudah, temenin gue yuk!" Boby pun pergi bersama Nino menuju UKS serta meninggalkan Elaine yang kini memasang wajah jengkel.
"Issshhh!! Shania lagi! Shania lagi... Awas aja!!" batin Elaine emosi.
"Kita jalan yuk.. ke bioskop. Ada film baru. Kamu pasti suka." tawar Elaine dengan semangat.
"Ehm....."
"Bob! Gue lihat tadi si Shania pingsan." ucap seorang murid laki-laki menghampiri Boby.
"Hah? Pingsan? Dimana dia sekarang, No?"
"Di UKS. Tadi habis dihukum keliling lapangan sama Pak Nobi." jawab teman Boby tadi bernama Nino.
"Yaudah, temenin gue yuk!" Boby pun pergi bersama Nino menuju UKS serta meninggalkan Elaine yang kini memasang wajah jengkel.
"Issshhh!! Shania lagi! Shania lagi... Awas aja!!" batin Elaine emosi.
Deva POV
Drettt...dreeet....dreetttt...
"Halo...."
"Halo Kak Deva! Shania pingsan, kak."
"Hah? Kok bisa?"
"Mending kakak kesini. Dia dari tadi belum sadar-sadar."
"Ya udah tunggu kakak ke sana ya."
Drettt...dreeet....dreetttt...
"Halo...."
"Halo Kak Deva! Shania pingsan, kak."
"Hah? Kok bisa?"
"Mending kakak kesini. Dia dari tadi belum sadar-sadar."
"Ya udah tunggu kakak ke sana ya."
Telpon dari Nabilah, sahabat
dekat Shania. Dia bilang Shania pingsan. Untungnya kelasku belum mulai, aku
bisa izin sebentar untuk pergi ke sekolah Shania. Kenapa adikku itu pingsan ya?
Sesampainya disana, aku langsung
menuju ruang UKS. Ini adalah sekolahku dulu, aku alumni di sekolah ini,
sehingga aku ingat letak ruangan-ruangannya.
Di ruang UKS ada Nabilah dan Gaby
yang menunggui Shania. Dan... oh, ada Pak Nobi juga.
"Assalammu'alaikum.."
"Waalaikumsalamm."
"Loh, kamu Deva yang kapten basket itu ya?" tanya Pak Nobi menunjukku.
"Hehe iya, Pak. Masih inget aja.." jawabku.
"Iyalah masih inget. Jadi kamu kakaknya Shania?"
"Iya Pak. Katanya Shania belum sadar-sadar." ucapku sambil melihat ke arah Shania yang sedang tidak sadarkan diri di ranjang UKS.
"Iya, Dev. Bapak khawatir, mending Shania dibawa ke rumah sakit aja deh. Dan maaf, ini gara-gara Bapak yang nyuruh Shania lari keliling lapangan, dia telat. Bapak nggak tahu kalau dia sakit." jelas Pak Nobi panjang lebar.
"Telat?" kok telat? Bukannya Shania tadi pergi bersama Viny?
"Iya, katanya tadi dia ketinggalan angkot." hal ini semakin membuat aku bingung.
"Oh, ya udah, Pak. Bil, Gab, bantu kakak bawain tas Shania ya." Mereka mengangguk lalu bergegas ke arah kelas mereka.
"Pak, saya permisi ya. Terima kasih Pak." ujarku sambil menggendong Shania.
"Iya sama-sama Dev."
"Waalaikumsalamm."
"Loh, kamu Deva yang kapten basket itu ya?" tanya Pak Nobi menunjukku.
"Hehe iya, Pak. Masih inget aja.." jawabku.
"Iyalah masih inget. Jadi kamu kakaknya Shania?"
"Iya Pak. Katanya Shania belum sadar-sadar." ucapku sambil melihat ke arah Shania yang sedang tidak sadarkan diri di ranjang UKS.
"Iya, Dev. Bapak khawatir, mending Shania dibawa ke rumah sakit aja deh. Dan maaf, ini gara-gara Bapak yang nyuruh Shania lari keliling lapangan, dia telat. Bapak nggak tahu kalau dia sakit." jelas Pak Nobi panjang lebar.
"Telat?" kok telat? Bukannya Shania tadi pergi bersama Viny?
"Iya, katanya tadi dia ketinggalan angkot." hal ini semakin membuat aku bingung.
"Oh, ya udah, Pak. Bil, Gab, bantu kakak bawain tas Shania ya." Mereka mengangguk lalu bergegas ke arah kelas mereka.
"Pak, saya permisi ya. Terima kasih Pak." ujarku sambil menggendong Shania.
"Iya sama-sama Dev."
Setelah dari kampus tadi, aku
pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengambil mobil milik Mama yang sedang
tidak dipakai. Tentunya aku sudah memberitahunya, termasuk mengenai Shania
pingsan.
Sesampainya di mobil , serta tas
Shania yang sudah dibawa oleh Nabilah dan Gaby, aku kemudian menuju ke rumah
sakit. Mereka berdua tadi ingin ikut, namun aku larang karena jam pelajaran
masih berlanjut.
Melody POV
"Yah, Deva tadi nelpon, dia minjam mobil Mama, dan katanya Shania pingsan. Sekarang lagi dibawa ke rumah sakit. Kita ke rumah sakit aja dulu yuk.." ucapku cemas setelah sampai di ruangannya yang bertuliskan "Manager".
"Hah? Pingsan?" suamiku pun kaget.
"Iya, ayo Yah.. Mama khawatir gini.."
"Yah, Deva tadi nelpon, dia minjam mobil Mama, dan katanya Shania pingsan. Sekarang lagi dibawa ke rumah sakit. Kita ke rumah sakit aja dulu yuk.." ucapku cemas setelah sampai di ruangannya yang bertuliskan "Manager".
"Hah? Pingsan?" suamiku pun kaget.
"Iya, ayo Yah.. Mama khawatir gini.."
Bagaimana tak cemas, baru
beberapa jam di sekolah dia sudah pingsan. Itu hal yang aneh. Apalagi aku tahu,
dia tidak ada pelajaran olahraga hari ini. Dan Deva bilang Shania tidak juga
sadar dari pingsannya. Tadi pagi dia memang terlihat pucat, dan dia bilang
kepalanya terasa pusing. Aku jadi sangat cemas, takut terjadi hal-hal yang
tidak kami inginkan.
"Dev, gimana Shania?"
tanya Farish, suamiku pada Deva setelah kami tiba di rumah sakit.
"Masih di dalam, Yah, Ma."
"Kok Shania bisa pingsan?"
"Masih di dalam, Yah, Ma."
"Kok Shania bisa pingsan?"
Deva pun lalu menjelaskan
semuanya pada kami.Yang kemudian menggantungkan ribuan pertanyaan di dalam
otakku ini. Terlambat ke sekolah?
Boby POV
"Mana No? kok nggak ada Shanianya?" tanyaku pada Nino saat sudah sampai di ruang UKS, dan tidak menemukan siapapun di sini.
"Mana No? kok nggak ada Shanianya?" tanyaku pada Nino saat sudah sampai di ruang UKS, dan tidak menemukan siapapun di sini.
"Nggak tau... Pulang kali
dia.." jawabnya.
"Loe sih tadi pake acara ke
toilet!" sahutku.
"Kok malah nyalahin gue?
Salah loe lah, nggak berani lihat sendiri ke sini." oceh Nino.
"Ya udah deh. Balik ke kelas
yuk.."
Saat akan kembali ke kelas, aku
melihat dari jauh, Shania digendong oleh seorang laki-laki.
"Bentar, No! Itu Shania
kan?" tanyaku memberitahunya.
"Wah iya, Bob. Tuh kan bener
kata gue..."
"Tapi tuh cowok siapa sih?
Apa pacarnya?" kataku penasaran.
"Hmmm negatif mulu pikiran
loe! Bisa aja itu kakaknya! Lagian mukanya juga mirip tuh."
Benar juga kata Nino, mungkin
yang menggedong Shania itu kakaknya. Aku dan Nino kemudian kembali menuju
kelas.
Shania.. Dia memang bukan cinta
pertamaku. Tapi dia telah mampu membuka mataku akan segala hal. Tak hanya
cantik dan pintar, ia juga gadis yang sangat sederhana. Aku sering dibuat kagum
olehnya. Terutama ketika dia mampu berbicara dengan sangat baik saat
menjelaskan sesuatu mengenai pembahasan materi di kelas maupun saat rapat osis
hingga membuat semua orang terpukau.
Sejak kelas 10 aku mulai suka
padanya. Ingin hati ini mengungkapkan, namun ku lihat tak ada tanda-tanda bahwa
ia juga mempunyai rasa padaku. Untungnya sahabatku Nino selalu bersedia
memberiku berbagai ide untuk bisa mendekati Shania, walau hingga kini terkesan
sia-sia.
Author POV
Setelah beberapa menit mereka menunggu, telihatlah seorang lelaki berseragam dokter yang keluar dari ruang rawat Shania.
Setelah beberapa menit mereka menunggu, telihatlah seorang lelaki berseragam dokter yang keluar dari ruang rawat Shania.
"Dokter. Bagaimana keadaan
anak saya?" tanya Farish.
"Anak anda hanya pusing
saja. Mungkin dia kelelahan atau hal lain." ucap sang dokter yang akhirnya
membuat lega ayah, ibu, dan anak itu.
"Tetapi untuk memastikannya,
perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika Bapak dan Ibu menginginkan. Saya
takut jika ada sesuatu dengan kepalanya." kata dokter lagi.
"Silahkan dok,
lakukanlah.." ujar Melody yang masih merasa khawatir.
"Tapi pemeriksaan hanya bisa
lakukan bila pasien sudah sadar. Silahkan jika Bapak dan Ibu ingin melihat
pasien." jelas dokter sambil mempersilahkan mereka masuk.
"Oh, baiklah dok. Terima
kasih."
"Sama-sama. Saya
permisi."
Mereka bertiga kemudian masuk ke
dalam ruang rawat Shania.
"Yah, Mama takut terjadi
apa-apa sama Shania." ucap Melody sambil mengusap rambut Shania.
"Iya Ma. Deva juga. Dari
tadi aja belum sadar-sadar." ujar Deva.
"Tapi kita tunggu Shania
sadar dulu." Farish menenangkan Melody.
"Yah, coba tanyain dokter,
periksa sekarang aja apa nggak bisa? Kalau nunggu sadar, Ayah tahu sendiri kan
Shania ini anaknya payah." balas Melody.
Yang dibicarakan sejak tadi pun
terlihat menggerakkan jari-jarinya, yang salah satunya tangannya terdapat jarum
infus. Lalu perlahan membuka matanya yang terasa berat dan buram.
"Dek..."
"Bang Deva... Loh... Ayah, Mama. Kok kalian disini? Ini dimana?" ujar Shania lemah.
"Bang Deva... Loh... Ayah, Mama. Kok kalian disini? Ini dimana?" ujar Shania lemah.
"Sssstttt. Diam dulu sayang.
Sekarang kita di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di sekolah." jawab sang
mama sambil memasangkan kacamata ke mata Shania.
"Rumah sakit? Pingsan?"
tanya Shania bingung.
Farish mengangguk mengiyakan
ucapan lemah putri kecilnya.
"Masih pusing
kepalanya?"
Shania menggelengkan kepalanya.
"Aku mau pulang.."
rengek Shania.
"Baru juga 1 jam lebih kamu
tidur di ranjang ini, malah udah ngajak pulang aja.." omel Deva yang
kemudian dihadiahi lototan mata dari ayahnya.
"Iya, tapi kita periksa lagi
dulu ya. Nanti setelah itu kita pulang." kata Melody dengan lembut.
"Shania udah nggak papa kok,
Ma. Cuma pusing biasa. Beneran! Ini juga masih jam sekolah. Bang ayo anterin
aku ke sekolah lagi!"
"Sayang......"
"Pulang Ma.. Bentar lagi ada
ulangan.." mohon Shania setelah melihat jam di dinding ruang rawatnya.
"Ya udah, kita
pulang..." kata Farish tiba-tiba.
"Ayah!!" sahut Deva dan
Melody bersamaan.
"Tapi kita pulang ke rumah.
Kamu perlu istirahat."
"Kok pulang ke rumah?"
"Nggak
ada tapi-tapian. Ya udah Ayah mau nemuin dokter dulu."
Setelah memperoleh izin dari
dokter, Shania pun akhirnya pulang ke rumah dan beristirahat di kamar ditemani
sang Mama.
"Mama kok nggak kerja?"
tanya Shania mendapati mamanya masih berada di kamarnya.
"Mama mau nungguin anak Mama
yang bawel ini. Lagian udah ada Ayah disana." jawab Melody enteng.
"Kayak anak kecil aja
ditungguin." balas Shania sambil menekuk wajahnya.
"Kan kamu emang masih kecil.
Udah diem deh. Sekarang makan dulu yuk, Mama suapin."
Shania menggeleng dan menutup
rapat mulutnya dengan tangan.
"Oh ya udah, nanti laptopnya
Mama sita dulu ya. Karena pemiliknya nggak mau ngisi energi."
"Jangan, Ma! Aku mau ngetik
artikel pake apa? Aku juga lagi update tulisan lanjutan yang kemaren."
ucap Shania kaget.
"Ya makanya ayo makan
dulu."
Akhirnya setelah penolakan yang
panjang, Shania pun memakan bubur yang disuap oleh mamanya.
"Kok bisa telat dek? Kan
kamu tadi perginya sama Kak Viny?" tanya Melody santai.
"Ehmmm.. Itu.... Eh... Tadi
itu Shania mampir ke rumah Nabilah dulu, Ma. Ternyata dia udah pergi duluan. Ya
udah jadi Shania naik angkot dan.... telat deh.." jawab Shania gugup.
"Terus, Kak Vinynya
ninggalin kamu?"
"Iyalah Ma, kan Shania
niatnya pergi bareng sama Nabilah naik mobil."
"Nggak bohong kan sama
Mama?" tanya Melody curiga.
"Buat apa Shania bohong sama
Mama?" Shania kemudian memberi senyum manisnya.
"Lain kali kalau janjian
sama temen, hubungi dulu orangnya. Dia ada nggak di rumah.." nasehat
Melody.
"Oke Mama." ucap Shania
mencium pipi sang Mama.
**********************************************************************************
"Viny...." sapa Melody
saat Viny memasuki rumah.
Viny yang baru saja menutup pintu
ruang utama, lalu kaget mendengar suara sang mama.
"Mama? Kok Mama di rumah?
Nggak ke kantor?" tanya Viny kaget.
"Shania tadi pagi pingsan,
dan sempat masuk rumah sakit. Jadi Mama pulang, Mama takut terjadi apa-apa
nanti sama dia." jawab Melody.
"Hmm.. Anak tiri aja
perhatiannya dikasih lebih. Giliran waktu aku sakit Mama malah kerja... Eh,
tapi napa tuh anak bisa pingsan? Ah bodo amatlah...." pikir Viny.
Viny hanya mengangguk cuek, ia
sedang tak ingin memulai pertengkaran dengan mamanya.
"Ganti baju sana gih, terus
makan. Ada yang mau Mama omongin nanti sama kamu." kata Melody.
"Sekarang aja kenapa?"
"Ini masalah penting. Udah
sana.."
Tanpa ada penolakan lagi, Viny
pun kemudian berjalan ke lantai atas menuju kamarnya.
**********************************************************************************
Veranda POV
Aku dan beberapa teman kampusku kini menginap di sebuah apartemen di Jepang. Selama 3 bulan ini, kami akan melakukan beberapa penelitian di sini. Dan ini memang membutuhkan waktu yang lama. Baru beberapa hari meninggalkan rumah saja aku sudah rindu keadaan di sana. Disela-sela waktu istirahat, aku pun kemudian mencari kontak salah satu adikku di handphone.
Aku dan beberapa teman kampusku kini menginap di sebuah apartemen di Jepang. Selama 3 bulan ini, kami akan melakukan beberapa penelitian di sini. Dan ini memang membutuhkan waktu yang lama. Baru beberapa hari meninggalkan rumah saja aku sudah rindu keadaan di sana. Disela-sela waktu istirahat, aku pun kemudian mencari kontak salah satu adikku di handphone.
"Nomor yang anda hubungi
sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan coba kembali."
Handphone Viny sedang tidak
aktif. Ah, aku lupa satu hal! Di sana kan sudah larut malam. Pasti orang rumah
sudah tidur semua. Iseng, aku pun mengechat ketiga adikku via line.
"Met bobo ya adek-adek
manisnya Kak Ve.."
Saat akan menaruh handphoneku,
terdengar ada sebuah pesan line.
"Kak, gimana? Udah ketemu
oshi Shania? Kakak baik-baik aja kan di sana?"
Loh, Shania belum tidur?
"Kok belum tidur dek? Belum
nih, belum sempet ke teaternya. Nanti kalau udah, pasti Kak Ve kabarin
kok.." balasku.
"Janji ya! Awas loh kalau
nggak ke sana.." balasnya lagi.
"Iya sayang... Eh! Kenapa
belum tidur? Udah jam 12 kan? Tidur sana.."
"Lagi ngetik nih. Ntar ah
belum ngantuk. Kakak lagi istirahat kan? Skypean yuk! Eh tapi Shania lagi nggak
ada kuota. Hehe"
Anak ini... Bawelnya minta
ampun...
Aku pun kemudian memilih menelponnya dengan menggunakan telpon yang ada di meja sebelah tempat tidur apartemen ini.
Aku pun kemudian memilih menelponnya dengan menggunakan telpon yang ada di meja sebelah tempat tidur apartemen ini.
"Haloo ini siapa? Kok
nomornya aneh? Orang luar negeri ya? Negara mana?"
"Heh! Tidur sana! Udah
malem.. besok sekolah, Shania...." aku lalu bersuara.
"Oh, ini Kak Ve ya? Kok
nomor kakak yang ini? Ini nomor apa Kak?" tanyanya.
"Nomor telpon apartemen.
Udah, sekarang matiin laptopnya, terus tidur deh. Besok sekolah!" ujarku
menasehati.
"Emang nggak mahal kak?
Ntar tagihannya naik. Kakak kena marah orang yang punya apartemen lagi..."
bawelnya lagi dan lagi.
"Udah deh, cepet sana tidur!
Atau kakak telpon Mama nih..."
"Huuuuhhh... Iya iya. Nih
udah Shania matiin laptopnya."
"Beneran yaa! Besok-besok
jangan tidur malem lagi. Dah... Good night dedeknya Kak Ve.."
"Dadah.... Besok-besok
juga nggak usah pake nelpon-nelpon nanti tagihannya mahal..."
Tuuut... Tuut.. Tuut..
Dia terkadang memang bawelnya
minta ampun. Namun jika sedang ada masalah, atau berbuat salah dengan orang,
dia bisa jadi anak pendiam seharian dengan tiba-tiba. Dan itulah yang membuat
aku sangat merindukan sosoknya.
Viny, adik kandungku sering
sekali membentak atau memarahi Shania. Yang terkadang juga bisa membuat Shania
selalu merasa bersalah. Aku bahkan Ayah, Mama, dan Deva, tidak tahu lagi
bagaimana cara untuk mengubahnya. Entah sampai kapan Viny seperti itu...
**********************************************************************************
Author POV
"Yah, tadi Mama udah bilang sama anaknya, katanya dia sih mau-mau aja dirayain.." ujar Melody pada Farish yang baru saja membaringkan tubuhnya sendiri di atas kasur.
"Beneran? Ya udah, nanti
suruh dia undang temen-temennya aja. Mau dirayain di mana? Apa kita nyewa kafe
aja?" tanya Farish.
"Nggak usah deh, Yah. Di
rumah aja. Terlalu gimana gitu kalau di kafe.." jawab Melody.
Farish pun mengangguk tanda
setuju dengan ide istrinya.
"Shania sudah mendingan,
Ma?" tanya Farish.
"Sudah mendingan sih, tapi
Mama khawatir juga nanti ada apa-apa. Masa sih tadi pingsan sadarnya lama
banget.." balas Melody cemas.
"Udahlah, nggak usah risau
gitu. Shania dari kecil anaknya kuat kok. Mama lihat kan piala-piala dia waktu
SMP, ada banyak dari cabang olahraga juga.." ujar Farish.
"Ish, Ayah mah! Tapi tetap
aja hati Mama cemas." kata Melody memukul lembut tubuh Farish.
"Hehe. Kita do'ain aja,
semoga anak-anak kita pada sehat terus. Yuk tidur, dah malem.." ujar Farish
dengan senyum menenangkan.
**********************************************************************************
Setiap
hari pun Shania selalu berangkat ke sekolah bersama Viny. Dan seperti hari-hari
sebelumnya, Shania juga selalu diturunkan oleh Viny saat mobilnya baru beberapa
meter meninggalkan rumah. Seperti hari ini, Shania yang
sudah hafal kebiasaan ini pun sesegera mungkin membuka pintu mobil, saat mobil
tersebut telah berhenti.
"Eh inget ya pesan gue!
Jangan sekali pun loe nampakin muka di acara gue nanti malem. Bagaimana pun
caranya! Walaupun loe dipanggil Mama sekali pun! Ngerti?!" ujar Viny.
Shania pun hanya tersenyum getir
dan mengangguk mengiyakan. Lalu ia keluar dari mobil Viny, dan segera
memberhentikan angkot menuju sekolah.
"Sampai kapan Kak Viny gini
terus sama aku? Jelas-jelas aku ini kan adiknya.. Pengen banget rasanya
jalan-jalan sama dia.." ujar Shania dalam hati sambil melamun di atas
bangku kelasnya.
"Ahhh. Apaan sih, Shan. Kamu
itu cuma adik tiri dia. Nggak usah ngarep deh." batin Shania sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hal itu membuat Nabilah, sahabat
sekaligus teman sebangkunya itu bingung.
"Loe napa sih Shan?
Geleng-geleng kayak orang stres gitu? Loe sakit?" tanya Nabilah bingung.
"Ehhh... Hehe nggak
kok." jawab Shania dengan sengirannya setelah sadar bahwa ia melamun sejak
tadi.
"Tuh, buk Lidya udah
masuk.." ujar Nabilah.
***********************************************************************************
Kini pesta ulang tahun Viny yang ke-17 tahun sedang berlangsung. Terlihat teman-teman sekolahnya yang telah hadir, memenuhi ruangan utama rumah untuk melihat Viny yang akan meniup kue ulang tahunnya.
"Shania mana sih Dev?"
tanya Melody pada putranya.
"Nggak tahu Ma, tadi sebelum
acara dimulai juga udah siap kok dia.." jawab Deva sambil celingukan
mencari Shania diantara beberapa tamu.
"Coba cari dulu Dev. Bentar
lagi mau tiup lilin nih.." Deva mengangguk.
Shania POV
Sekarang aku sedang berada di warnet yang tak jauh dari komplek perumahanku. Aneh memang, di saat Kakaknya merayakan ulang tahun aku malah berkeliaran tak jelas. Aku sudah sering datang ke warnet ini, sebab bila kuota modemku sedang habis, aku akan langsung ke sini secara diam-diam tanpa diketahui oleh orang-orang rumah, kecuali pembantu dan satpam di rumah. Namun kali ini penyebabnya berbeda. Setelah mengganti dress dengan pakaian biasa, aku lalu pergi ke warnet ini tanpa diketahui siapa pun. Ini ku lakukan demi perintah Kak Viny. Entah apa alasannya...
Sekarang aku sedang berada di warnet yang tak jauh dari komplek perumahanku. Aneh memang, di saat Kakaknya merayakan ulang tahun aku malah berkeliaran tak jelas. Aku sudah sering datang ke warnet ini, sebab bila kuota modemku sedang habis, aku akan langsung ke sini secara diam-diam tanpa diketahui oleh orang-orang rumah, kecuali pembantu dan satpam di rumah. Namun kali ini penyebabnya berbeda. Setelah mengganti dress dengan pakaian biasa, aku lalu pergi ke warnet ini tanpa diketahui siapa pun. Ini ku lakukan demi perintah Kak Viny. Entah apa alasannya...
Happy birthday Kak Viny..
Moga panjang umur, sehat selalu..
Selalu sayang keluarga yaa...
Moga panjang umur, sehat selalu..
Selalu sayang keluarga yaa...
Terasa air mata menetes dari
salah satu pelupuk mataku. Lalu cepat-cepat aku hapus sebelum orang-orang di
warnet ini melihatnya.
"Shan, kuota habis?"
sahut Ci Desy menghampiri lalu duduk disampingku, ia adalah penjaga warnet yang
sudah sangat tahu kebiasaanku.
"Hehe iya nih Ci"
jawabku tertawa ke arahnya.
"Isi dong! Baru juga
pertengahan bulan, masa duit jajan udah habis aja?" candanya.
"Jangan sok nanya deh."
kataku kesal, karena dia sudah sangat tahu tentangku.
"Jangan sering ke sini
malem-malem, kenapa nggak siang tadi? Rumahmu kan jauh, sekarang juga lagi
musim penculikan.." ujarnya memberi nasehat padaku dengan logat jawa.
"Ya kan lagi kepepet,
Ci."
"Jalan kaki lagi ke
sini?" tanyanya.
"Nggak kok, pake sepeda
kakakku." jawabku sambil tetap fokus ke layar komputer.
"Buka apaan kamu?"
"Nih Ci ada lomba nulis
karya ilmiah, lumayan hadiahnya juara 1 dapet duit 1,5 juta.." jelasku
padanya.
"Wah, ikutan deh sana,
Shan.. Ntar kalau menang, traktirin Cici bakso Mang Syu'eib yak." ujarnya
yang malah membuatku jengkel.
"Apaan dah. Makan mulu..
Badan sekali pun nggak pernah tumbuh ke samping, tapi ke atas terus..."
ejekku.
"Kualat loh kamu ngatain
orang terus. Udah sana pulang, dah malem. Ntar dicariin.." katanya sambil
meninggalkan.
"Iya iya.. Ntar lah,
nanggung.." jawabku sekenanya.
Tak terasa sudah 2 setengah jam
aku disini. Dari dalam warnet, ku lihat banyak rombongan mobil yang keluar dari
arah komplek rumahku. Aku lalu cepat-cepat meninggalkan warnet dan menaiki
sepeda menuju rumah sebelum aku dicari.
Sesampainya di depan rumah,
suasana sudah sepi, aku lalu mengendap-ngendap untuk masuk ke dalam rumah
melalui jendela. Untungnya satpam di rumahku sedang tidak ada di pos jaga.
"Shania!!!"
"Akkkkkhhhhhh..."
Kakiku terkilir, rasanya sakit
sekali, lebih dari apapun. Aku tidak bisa bangkit, dan takut untuk menatap ke
arah orang yang membuatku kaget tadi. Ia menghampiriku.
"Kamu darimana? Hah?"
bentaknya yang tak lain adalah ayahku sendiri.
Perlahan aku menengok ke arahnya.
"Ehh..." jantungku
berdegup.
"Kakakmu lagi nyerayain
ulang tahunnya, kamu malah kelayapan!! Cepat masuk!" bentaknya lagi lalu
masuk ke dalam rumah.
Ini bukan kali pertama Ayah
membentakku, dulu saat aku masih SD karena melakukan sebuah kesalahan, ia
memarahi dan membentakku. Dan ku rasa kali ini aku wajar mendapatkannya lagi.
Akhirnya dengan bertumpu pada
tembok, aku bisa berdiri dan berjalan walau dengan susah payah serta menahan
sakit.
"Yah, Ayah kenapa?"
terdengar suara Mama dari arah ruang keluarga.
Aku pun sampai di ruang tersebut.
Ternyata semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Aku hanya bisa berdiri diam
dan menatap ke arah lantai.
"Shania...." kata Mama
dan Bang Deva mungkin karena kaget melihatku.
"Shania kamu dari mana aja
tadi?" tanya Mama dengan nada yang terbilang masih lembut.
"Shania... Baru
dari....rumah.... temen Ma.." ucapku sengaja berbohong dan dengan nada
gugup serta terbata-bata.
Ku dengar langkah kaki mendekat
cepat ke arahku.
Plaaaaakkk
"Ayah!!!" teriak Mama.
"Dasar kamu ya!! Ngapain
kamu keluar dengan urusan yang nggak penting, hah?? Apa menurut kamu ke rumah
temen kamu lebih penting dari pada pesta kakakmu? Jawab!!" teriak Ayah
emosi.
Aku melihat ke arahnya. Karena
tidak memakai kacamata, samar-samar ku lihat Mama dan Bang Deva hanya bisa diam
terpaku. Sedangkan Kak Viny... ia seperti tersenyum sinis ke arahku.
Aku tak bisa menjawabnya, otakku
seperti sedang tak bisa berfikir dengan jernih. Terserah saja jika kali ini
Ayah akan menghukumku. Aku rela...
"Ayah, jangan!!!"
Breeeet brreeeet breeeet..
Suara yang keras itu berasal dari
tubuh bagian pinggang belakangku yang baru saja terkena cambukan tali pinggang
Ayah. Sepertinya aku besok tidak sekolah...
"Ayah stop! Mama kan sudah
bilang, jangan pernah lagi menghukum anak dengan cara kayak gitu! Shania itu
anak kita! Apa salahnya dengerin penjelasannya dulu?" marah Mama sambil
mencegah Ayah, Bang Deva pun demikian.
"Ini sudah keterlaluan,
Ma.." bentaknya.
Aku bukan tipe anak yang hobi
menangis di depan anggota keluargaku. Ku tahan terus sakit dan perih yang
masing-masing terasa di kaki dan pinggangku ini.
"Shania, kamu ke kamar dulu
ya." ujar Mama yang masih mencegah Ayah untuk mencambukku. Aku pun
menurutinya.
Karena tak ingin mereka tahu jika
kaki ku terkilir, aku berusaha berjalan dengan biasa saja. Kebetulan tempat aku
berdiri tadi berdekatan dengan tangga menuju lantai atas. Aku berjalan dengan
pelan dan rasa takut.
Author POV
"Yah, nggak seharusnya Ayah tadi pake acara nyambuk Shania gitu!" Deva membentak Ayahnya.
"Yah, nggak seharusnya Ayah tadi pake acara nyambuk Shania gitu!" Deva membentak Ayahnya.
"Adik kamu itu nggak tahu
diuntung. Ayah heran kenapa dia jadi kayak anak pembangkang gini. Seharusnya
setelah Ayah marahin, dia minta maaf kek ke Viny. Ini malah diem" marah
Farish sambil mrngatur nafasnya.
"Udah, cukup!! Mama mau
lihat Shania. Dev, kamu tenangin dulu Ayah kamu."
Sang Mama kemudian menaiki tangga
diikuti Viny dari belakang, namun mereka berbeda tujuan.
"Shan..."
Melody membuka pintu kamar
Shania, dan mendapati anaknya itu sedang duduk di pinggir ranjang sambil
melamun ke arah jendela yang terbuka.
"Dek...."
Melody menghampiri, dan memeriksa bagian tubuh Shania yang dicambuk oleh
Ayahnya tadi. Yang berhasil membuat Melody menghela nafas berat.
"Hmmm. Tidur tengkurap dulu.
Mama mau ngompres lukanya.."
Shania hanya menuruti. Dan dia
hanya diam saja.
"Ma... Shania minta
maaf..." ujar Shania saat sang Mama sudah selesai mengobati luka dan memberikan perban untuk
mengurangi rasa perih.
"Udah.. Mama maafin kok.
Mama nggak minta alasan. Sekarang kamu tidur ya.. Besok nggak usah sekolah,
pasti masih perih." Melody kemudian meninggalkan kamar Shania.
Setelah terdengar sang Mama
menutup pintu, Shania langsung membalikkan posisi tidurnya.
"Aaarhhh.. Perih
banget..."
Katanya pelan, terlihat air matanya yang akan bersiap jatuh.
"Kok kepalaku pusing banget
ya." batinnya sambil memegang kepalanya.
"Dibawa tidur aja ah.."
***********************************************************************************
"Dev, panggil Shania coba. Suruh sarapan. Jangan tidur-tiduran
terus." suruh Farish pada putranya.
"Iya, Yah." katanya
lalu menuju kamar Shania.
Tokkk tokkk tokkkk...
"Shan..."
Kreekkkk
"Kok nggak dikunci Shan?"
tanya Deva menghampiri Shania yang masih tidur.
"Nggak usah pura-pura tidur
deh. Hehe.." ucapnya sambil menggelitiki pinggang sang adik.
"Oi Shan.." Ia pun menggoyangkan tubuh Shania. Namun tetap tidak mendapat respon.
"Oi Shan.." Ia pun menggoyangkan tubuh Shania. Namun tetap tidak mendapat respon.
Setelah dibuka gorden jendela, di
dapati adiknya itu dengan muka pucat.
"Dek... Dek..." ia pun
tak merasakan hembusan nafas Shania.
"Ayah.... Mama...."
teriaknya memanggil kedua orangnya.
***********************************************************************************
"Masuk rumah sakit?" ujar Gaby setelah mendengar perkataan Nabilah.
"Iya, gue nelpon Bang Deva
tadi.."
"Shania sakit? Sakit apa
Nab?" kali ini Boby menghampiri dan ikut bertanya pada Nabilah.
"Nggak tau juga. Kata
Abangnya sih belum pasti." jawab Nabilah.
"Kalian mau jenguk dia kan
nanti?" tanya Boby.
Nabilah dan Gaby mengangguk.
"Iya lah..." jawab Nabilah dan Gaby serempak
"Oke, barengan yaa.."
**********************************************************************************
"Ini semua gara-gara Ayah..." sang kepala keluarga membuka suara setelah keheningan terjadi di depan salah satu ruang darurat rumah sakit.
"Ini semua gara-gara Ayah..." sang kepala keluarga membuka suara setelah keheningan terjadi di depan salah satu ruang darurat rumah sakit.
"Sudah, semua sudah
terlanjur. Nggak perlu buat dibahas lagi.." kata Melody.
"Maaf, Ibu dan Bapak, bisa
ikut ke ruangan saya?" suara dokter membuat sepasang orang tua dan
putranya itu menoleh.
"Bisa dok... Dev, kamu
tunggu di sini ya.." ujar Farish.
"Saya boleh masuk dok?"
tanya Deva.
"Boleh.. Pasien sudah sadar
sejak tadi.." kata sang dokter.
Viny POV
Ada-ada saja.. Anak itu pagi-pagi sudah membuat orang cemas, tentunya kecuali aku. Mereka sibuk membawanya ke rumah sakit. Dan aku? Tetap disuruh Mamaku sekolah. Lagi pula, masa bodo lah..
Ada-ada saja.. Anak itu pagi-pagi sudah membuat orang cemas, tentunya kecuali aku. Mereka sibuk membawanya ke rumah sakit. Dan aku? Tetap disuruh Mamaku sekolah. Lagi pula, masa bodo lah..
"Vin, Yon, gue denger-denger
tahun ini kita perpisahan di sekolah." kata Noella padaku dan Yona saat
guru yang mengajar di kelas kami sedang keluar.
"What? Di sekolah? Katro
banget sih! Kayak nggak ada tempat lain aja di kota seluas ini..!" ujarku
kaget.
"Emang loe denger dari siapa
Wel?" tanya Yona yang duduk di sebelahku.
"Dari adik gue, si Anin.
Temennya kan anggota osis. Tapi sih itu katanya baru rencana dan ide doang dari
wakil ketua osisnya. Kepsek juga belum ngeresmiin" jelas Noella.
"Wakil ketua osis.."
ucapku pelan. Noella mengangguk.
"Wakil ketos kita si Shania
anak 11 IPA 1 itu kan? Dia katanya bakal lomba karya tulis ilmiah tingkat
nasional di Jogja ya?" tanya Yona.
"Iya, gue juga denger. Dia
anaknya emang pinter banget. Juara umum 2 kan kemaren? Dari kelas unggulan
pula. Nggak kayak adek gue.." balas Noella.
"Sok banget ya anak itu.
Pake ngasih ide kayak gitu. Atau dia mau dipuji orang-orang dengan idenya itu?
Dasar bodoh! Awas aja ntar. Gue kasih perhitungan tuh anak.." batinku
menahan emosi.
Dan sekarang terjadilah
pembicaraan sahabat-sahabat ku mengenai anak itu hingga membuat telingaku
panas. Aku hanya diam tak menanggapinya. Untungnya setelah Pak Ronald,
guru yang mengajar kami kembali masuk, pembicaraan mereka berdua pun berakhir.
Author POV
"Sebelumnya..."
"Sebelumnya..."
Dreeet dreeeet dreeeet...
"Yah, Mama keluar sebentar
ya. Ada telpon dari client. Permisi dok.." perkataan si dokter tadi
terpotong karena ucapan Melody. Farish dan dokter pun mengangguk.
"Jadi bagaimana kondisi
Shania dok.." tanya Farish setelah Melody meninggalkan ruangan.
"Maaf sebelumnya jika saya
lancang untuk memeriksa Shania tanpa seizin Bapak. Karena setelah dia sadar
tadi, saya langsung merontgen kepalanya. Dan..."
"Dan apa dok, tolong
bicarakan dengan jelas.."
Si dokter yang bername tag dr.
Frans itu menunjukkan hasil rontgen.
"Saya menemukan ada bagian
otaknya yang mengalami peradangan." ujarnya sambil menunjukkan salah satu
bagian otak.
"radang otak kah ?"
dokter mengangguk.
"Namun itu baru pemeriksaan
sementara. Tetapi apakah Shania sering pingsan, pusing atau mengalami
kejang-kejang?"
"Baru kali itulah dia pingsan
dok, sebelum kejadian itu dia tidak pernah pingsan walau hanya gara-gara
berlari. Kalau kejang-kejang... untuk saat ini tidak pernah" jelas Farish
bingung.
"Hmmm. Berarti ini baru
gejala awal. Tolong Bapak lebih perhatikan kondisinya. Ini saya berikan resep
obat jika sewaktu-waktu kepalanya pusing." ucap dokter sambil memberikan
selembar kertas setelah menuliskannya.
"Dan ini kartu nama saya.
Jika dia pingsan tiba-tiba, anda bisa hubungi saya saja. Bila saya tidak sedang
sibuk, saya pasti datang. Mulai sekarang Shania sudah menjadi pasien tetap
saya." sambungnya, memberi sebuah kartu nama dan tersenyum ramah.
"Baiklah, dokter Frans.
Terima kasih. Lalu, apa Shania bisa beristirahat di rumah hari ini?" ujar
Farish.
"Untuk hari ini belum boleh.
Besok baru akan saya izinkan untuk pulang." kata dokter.
"Baiklah. Oh ya hampir lupa,
ini juga kartu nama saya. Terima kasih ya dok.."
"Sama-sama, Pak.."
"Baiklah
kalau begitu, saya permisi.."
Farish POV
Ping!!
"Yah, Mama ke kantor
sebentar ya, ada client di sana. Nanti Mama ke rumah sakit lagi"
isi chat istriku.
"Iya Ma." balasku.
Setelah itu aku lalu menuju ke
ruang rawat Shania.
Berat untukku mengetahui anakku
yang selalu sehat, kini harus merasakan sakit. Akan sampai kapan dia
merasakannya. Syukurlah ini baru gejala awal. Dan yang pastinya, putri kecilku
itu harus sembuh, sebelum penyakit sialan itu benar-benar datang padanya...
Sesampainya disana, ku lihat Deva
dan Shania sedang bercanda.
"Gimana dek, kepalamu masih
pusing?" tanyaku setelah mengucap salam.
"Pusing? Nggak kok
Yah.." katanya pelan. Mungkin dia masih takut denganku gara-gara kejadian
semalam.
"Gimana Yah, apa kata
dokter?" tanya Deva yang duduk di kursi sebelah kiri ranjang Shania.
Aku kemudian duduk di kursi
sebelah kanannya. Ku usap rambut putriku ini dengan sayang.
"Shania nggak papa kok.
Hanya.."
"Hanya apa, Yah? Kok kepala
Shania tadi dirontgen?" tanya Shania menatap wajahku.
"Kata dokter...dari hasil
rontgen itu...otak Shania mengalami peradangan.."
"Peradangan? Maksudnya
Yah?" tanya Deva. Sementara Shania hanya menatapku bingung.
"Ya...radang otak. Tapi ini
baru gejala awal.."
"Gejala awal? Terus, Shania
bisa sembuh nggak Yah?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, ini baru gejala
awal. Dan kalau Shania rajin minum obat, pasti sembuh kok." ucapku dengan
lembut lalu mencium keningnya.
"Beneran Yah? Oke, Shania
bakalan rajin minum obat. Shania bosen pusing terus.." ujarnya semangat.
Aku hanya mengangguk. Deva ikut
tersenyum walau ku lihat raut sedih di wajah putraku itu.
"Tapi inget juga. Jangan
terlalu capek. Nanti Ayah cari sopir pribadi buat nganter jemput sekolah."
ujarku.
"Sopir pribadi? Ih Ayah!
kayak orang kaya aja pakai gituan. Nggak mau ah. Shania bareng Kak Viny
aja.." tolaknya.
Aku dan Deva saling menatap.
"Tapi sayang..."
"Nggak mau! Pulangnya naik
angkot juga nggak papa. Nggak ada hubungan deh sama kesehatan otak."
katanya yang akhirnya membuatku bungkam.
"Oh iya Yah, Mama
mana?" Deva bertanya.
"Mama kalian ke kantor,
katanya ada client." jawabku.
"Yah, jangan kasih tahu Mama
ya tentang penyakit Shania. Cukup Ayah dan Bang Deva aja yang tahu." ujar
Shania.
"Hah? Kenapa?" tanyaku
bingung.
"Pokoknya jangan. Mama kan
orangnya cepat cemas gitu. Kak Ve dan Kak Viny juga jangan ya." pintanya
lagi.
Aku menghela nafas berat.
"Baiklah kalau itu maunya
Shania, Ayah turutin."
"Makasih Ayah..."
katanya lalu memelukku.
"Dev, tolong tembusin obat
Shania ya." suruhku pada Deva sambil memberi selembar kertas yang diberi
dr. Frans tadi.
"Oke Yah.."
"Yah, berarti Shania hari
ini boleh pulang?" tanyanya setelah tak lama Deva pergi.
"Belum dong sayang, besok
kamu baru bisa pulang." jawabku sambil terus mengusap lembut rambutnya
yang halus.
"Ya...Kok gitu..."
wajahnya lalu murung.
"Dek.... Masalah semalam...
Ayah minta maaf ya..." kataku pelan.
"Kok Ayah yang minta maaf?
Kan Shania yang salah. Shania minta maaf Yah.. Kak Viny jug...."
"Sssstttt... Ayah ngerti
kenapa kamu melakukan hal seperti kemarin. Semalam Ayah kalap, jadi Ayah nggak
bisa berfikir jernih. Nggak usah dibahas lagi ya." ucapku menutup mulutnya
dengan jari telunjukku.
Ia terdiam. Ku sibakkan selimut
di bagian kakinya.
"Ayah mau ngapain?"
tanyanya takut-takut.
Aku kaget melihat pergelangan
kakinya yang terkilir semalam berwarna keunguan.
"Ya tuhan dek! Ini parah
banget. Kenapa kamu diam aja..." tanyaku cemas.
Dia terus saja diam sambil
tangannya memainkan ujung selimut. Ku urut perlahan luka memar itu.
"Aaaakkkh sakit Yah!!"
teriaknya kesakitan.
"Tahan ya nak.. Ayah urut
sebentar." ia mengangguk lemah.
"Mama tau kakimu
terkilir?" tanyaku.
Ia menggeleng pelan.
Ku pijat terus kakinya dengan
perlahan. Ku lihat dia menangis dengan diam sambil menggigiti ujung selimutnya.
Aku jadi tak tega... Tapi jika dibiarkan, luka ini akan semakin parah nanti.
"Ayah udah Yah... Sakit...
Hiks..."
Setelah kurang dari sejam,
kakinya sudah terasa membaik.
"Beneran, udah
mendingan?" tanyaku lagi sambil masih memijatnya.
"Iya... Akhirnya, ngerasain
pijitan Ayah lagi... Hehe..." ujarnya cengengesan.
"Ih dasar!" kataku
mencolek hidungnya yang sangat mirip dengan Almarhumah istriku.
Dulu sebelum aku menikah dengan
Melody, selain berprofesi sebagai karyawan pabrik, aku juga bekerja sambilan
menjadi tukang urut. Saat masih SD Shania pernah jatuh dari sepeda, dan aku lah
yang memijatnya. Walaupun rasa sakitnya telah hilang, dia terus memintaku untuk
memijati kakinya. Katanya pijatanku sangat enak dan menyejukkan. Menyejukkan?
Dasar anak kecil!
"Terus..... Yang cambukan
itu, kata Mama udah diobatin?" tanyaku lagi.
"Udah kok..."
"Coba ayah lihat..."
Ia lalu memiringkan tubuhnya. Ku
buka sedikit baju pasien yang dikenakannya pada bagian pinggang. Terlihatlah
perban menutupi bagian tubuhnya itu. Aku menutupnya lagi.
"Masih perih?" tanyaku
setelah dia mengembalikan posisi tidurnya seperti semula.
Ia mengangguk.
"Maafin Ayah sekali lagi
ya... Ayah janji nggak bakal mukulin Shania lagi..."
"Kalau Shania salah, pukul
aja Shania Yah... Nggak papa kok... Biar Shania nggak ngulang kesalahan untuk
kedua kalinya." ujarnya tulus.
Bicara apa bocah ini?
"Nggak!! Mulai sekarang Ayah
nggak akan ngelakuin hal itu lagi... Kalau pun Ayah lupa, ingetin Ayah ya
sayang..." ucapku lembut dan mencium keningnya lagi.
Tok tok tok...
"Selamat siang, Om..
Shania.."
Ternyata ada Nabilah, Gaby, dan 2
orang teman laki-laki Shania yang tidak ku kenal dari arah pintu.
"Eh Nabilah, Gaby... Ayo ayo
masuk..." sahutku.
"Hai Shan, gimana
kondisinya?" tanya Nabilah.
"Cuma pusing karena demam
doang kok." jawab Shania berbohong.
"Kalian berdua teman sekelas
Shania juga?" tanyaku pada 2 teman lelaki Shania.
"Iya Om.." jawab
mereka.
"Saya Boby, Om.."
"Nino, Om.."
Mereka berdua memperkenalkan diri
padaku.
"Nih Shan, kita bawa
buah-buahan.. Loe pasti belum makan kan? Gue lihat belum ada makanan disini.."
ujar Nabilah cerewet sambil menaruh bawaannya di atas meja.
Mereka berdua sering bermain ke
rumah kami, sehingga dia tak pernah canggung untuk bercengkrama atau bercerewet
ria walau padaku dan istriku.
"Tau aja kalian Nab, Gab. Om
belum sempet beli tadi. Makanan dari rumah sakit belum nongol juga nih. Bang
Deva lagi beli obat Shania, mungkin nanti bawa makanan.." jawabku santai.
"Kalian udah pulang?
Bukannya 2 jam lagi ya?" tanyaku setelah melihat jam di tanganku.
"Lagi ada rapat Om. Jadi
kita dipulangin..." jawab Gaby.
"Oh...." aku
mengangguk.
"Nih Shan..." Nabilah
menyuapi jeruk ke mulut Shania.
"Halooo...
Wah rame nih..." sapa seseorang dari arah pintu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wehewwwww chapter 1 (part1-7 di wattpad)

0 Komentar untuk "FANFICTION : My Step Sister"