Upacara bendera SMA NEGERI 48 CENGAL telah usai dilaksanakan. Matahari semakin memunculkan jati dirinya. Murid-murid pun mulai berhambur membubarkan diri dari barisan kelas yang telah diatur sedemikian rapi oleh sang guru. Beberapa diantara mereka ada yang ke arah kelas, toilet, serta kantin.
Seperti yang terlihat di salah satu kelas 12 yakni XII IPA 3. Hampir semua murid di kelas tersebut mengeluh lelah, letih, dan lesu.
"Huh capek, pegel kaki aku tegak terus.." kata salah seorang dari mereka bernama Siti.
"Dak apolah, Tik. Kan sekalian biar biso diet" sahut sang teman, Ratna.
"Iyo bener kato Ratna. Upacara tuh kan cuma denget bae. Pacak bikin kalori kito berkurang, terutama kalian berduo" sahut lagi seorang calon dokter, sebut saja Ayana, eh Lupek *maap*
Ratna dan Siti yang merasa tersindir pun hanya bisa manyun.
"Oi pertama pelajaran TIK kan?" tanya Arpan sang anak futsal.
"Iyo, TIK. Abes tuh Sejarah ye?" jawab dan tanya Mely pada teman sekelas.
"Iyo" serentak beberapa teman menjawab.
"Abes itu apo? Nah Ka, kito maju hari ini sejarah." ujar sang ustadzah, Rika.
"Nah iyo. Untung sudah siap!" ujar teman sebangku Rika, yaitu Riska.
"Abes Sejarah..."
"B I O L O G I" sekelas serentak memotong perkataan Messy.
"Erli lagi" sahut Nopik si putih melati sambil menaruh dagunya di atas meja.
"Malek.."
"Bosen.." sahut Eka dan Ira berurutan.
"Rebecca.. Rebecca.. Yo kerjokeeen" Dien ikut menyahut berisi sindiran.
"Ai dah, gek ibuk itu bawak Yogurt lagi, aku yang suruh jual. Yang ado rugi aku nyualnyo" ujar Chika dalam hati.
"Bibik aku nih banyak nian yang dak seneng samo dio. Tapi dio ngajar terus. Cak tabah nian. Pasti ado jampi-jampi." batin Nadia.
Pelajaran TIK pun dimulai. Sang guru yang juga merupakan wali kelas XII IPA 3, Ibu Fitri, memasuki kelas terkompak itu.
“Assalammu’alaikum..” sahut guru yang memiliki nama sapaan Bu Fit ini.
“Wa’alaikumsalam..” jawab semua murid.
Ibu Fit mengabsen semua murid didikannya satu persatu sesuai abjad. Hingga berakhir dinama Winda Oktari. Setelah itu, Bu Fit pun menutup penanya. Dan dimulailah kata-kata nasihatnya. Namun...
“Siapo yang piket kemaren? Ngapo kemaren pas Ibu kesini, kelas ini kotor? Cepet! Tunjuk tangan!” tanya Bu Fit terkesan marah namun dengan nada tenang.
Rika, Eka, Mely, Siti, Adi, Arpan, dan Apora pun kemudian mengangkat tangan meraka.
“Nah. Berapo ikok. Sikok, duo, tigo,... tujuh. 7 wong. Ngapo kemaren dak piket?” tanya Bu Fit.
“Itu Bu, kemaren kami nak berenang Bu, jadi dak sempet” jawab Apora, takut.
“Iyo, Bu” sahut keenam murid lainnya.
“Kan berenangnyo jam tigo, masih ado waktu kan untuk piket. Pokoknyo kalian bayar dendo 10000 per wong. Bayar samo Messy. Messy, tagihin!” suruh Bu Fit.
Mereka bertujuh pun hanya bisa pasrah, dan muncul kata penyesalan di diri mereka masing-masing.
Pelajaran TIK pun berakhir dengan nasihat-nasihat yang amat berarti untuk semua murid dari sang wali kelas. Termasuk tanggapannya akan keluh kesah para murid mengenai sang guru biologi.
Riwayat kehidupan terus berlanjut, tidak akan pernah berakhir hingga dunia hampa dan angin tak lagi berhembus. Begitulah sejarah. Sebuah pelajaran yang berdasarkan periodisasi dan angka, kata si guru yang bersangkutan.
“Assalammu’alaikum”
“Waalaikumsalam..”
“Payo siapo yang maju hari ini? Deka, mano ini yang nak maju?” tanya Bu Nana, guru mata pelajaran tersebut.
“Katek kabelnyo, Bu. Lagi dipakek pak Siddik.” jawab Deka, sang ketua kelas.
“Cubo minjem di IPA 1, Dek.” sahut Faza.
“Oh iyoo gek buk. Da, rewangi aku peh!” sahut Deka sambil mulai berlari.
“Payo say” jawab Huda, saudara angkat Mely, menyusul si ketua kelas.
Selama pelajaran berlangsung, murid-murid disibukkan dengan mencatat kesimpulan dari setiap materi yang sedang disampaikan oleh beberapa teman secara bergiliran. Hingga akhirnya..
Oh indahnya saling beeerbagii..
saling meeeemmberi karena Alloh...
Lantunan lagu merdu Opick terdengar. Memberi tanda bahwa telah waktunya untuk semua murid beristirahat. Beberapa murid satu persatu mulai keluar dari kelas. Begitu pula dengan Bu Nana.
“Poya, Cici, solat dhuha peh” ajak Citra Indah Sari Wangi Sekali.
“Payoo. Peh Deak, Ratna.” sahut Citra Putri.
“Dak makan bekal dulu apo oo?” jawab Ratna.
“Kagek baelah Ratna, solat dulu beh.” ujar Deasi.
“Yo sudah, payoooo.”
Mereka pun bergegas ke mushola.
“Lupek, Messy, jajan peh” sayup-sayup suara Adel terdengar di luar kelas.
“Makan..Makan.. Waktunya makan..” teriak Huda sambil membuka bekal makanannya.
“Yeeeee.. Makan.. Bawa apo kau lur?” tanya Mely.
“Neh, siapo yang nawarin. Ngajak kau idak..hehe. Bawak iwak sarden aku lur, galak dak?” jawab Huda sekenanya.
Lalu terlihat Aan berjalan melewati meja yang merupakan tempat mereka makan.
“Aas, nak kemano? Makan bareng nah As..” ajak Mely pada Aan.
“Neh Meliiiii” Nopik pun bersuara.
“Nak ke kantin.” Jawab Aan.
“Beli mie ee?” tanya Mely kembali.
“Iyooo” jawab Aan seadanya.
Di lain sisi...
“Ra, jajan peh, laper.” Sahut anak pak Amrizal.
“Agek ah, nak jajan apo? Ai dah bingung aku nak makan apo.” jawab Ira sambil buka tutup dompet.
“Peh Nca, jajan.” kata Evita, menarik lengan baju Chika yang sedang meng-update grup bbm shopnya -_-
“Melok oo.” Indriani pun ikut. Mereka pergi ke kantin berlima.
“Oi aku males pelajaran biologi..” Huda mulai bicara saat sedang makan.
“Da, enak ee sardennyo. Sambelnyo teraso nian. Mama kau ee masak?” tanya Mely mengabaikan perkataan Huda.
“Idak, oma aku. Heee.” sambil melirik George yang sedang bermain laptop bermaksud menyindir. Namun yang disindir tidak menyadarinya.
“Kau nih, Da. Jangan cak itu” kata Mely bermaksud menasehati.
Berbuat baik, janganlah ditunda-tunda..
Heyyyyy
Berbuat baik, janganlah ditunda-tunda..
Heyyyyy
Waktu pun menunjukkan jam pelajaran ke-empat. Menandakan jam istirahat telah berakhir.
Lalu pelajaran sejarah mulai disambung kembali. Hingga suara mbak-mbak dan mas-mas TU terdengar, yang mengumumkan bahwa pelajaran memasuki jam ke-lima. Dan yaaa..
“BIOLOGI” sahut Charlos lesu.
“Hmmmm..” Evit berdehem sambil memakai kacamata minusnya.
“Vit, katek PR kan? Ulangan yo?” tanya Arman, teman sebangkunya.
“Katek. Dak tau, kato dio sabtu kemaren hari ini ulangan. Aku be belum belajar heee” jawab Evit cengengesan.
“Oiii kagek diem-diem be yee. Jangan ngomong man kito ulangan” sahut Ralfi, kekasih Chika.
“Yah, kamu nih.. Aku lah belajar padahal.” Ujar Faltra tidak setuju sambil bertingkah seperti..... *jawab sendiri*
“Neh dio nih. Lemak man ngasih contekan. Awak ngepek jugo.” ujar Ralfi.
“Iyo awak nih. Lupek be belum belajar. Yo dak pek?” ujar Arpan.
Tapi Lupek *ecak-ecak dak tauuu*
“Yoyo terserah kamu lah.” balas Faltra, bermaksud serius, namun wajahnya tampak cengengesan seperti Dono.
“Fal, kau galak nian yee samo Lupek?” tanya Tomo.
“Ai Mo kau nih..” jawab Faltra sal ting-ting.. eh salah tingkah. *maap lagi*
Di lain sisi..
“Oi gek kito tanyo-tanyoi Ibu itu peh. Gek kito tanyo, ini itu apo dio.” sahut Huda kepada teman-teman yang duduk di sebelah barisannya.
“Hehe payoo. Kau mulailah dulu yee, gek aku bantu pasti..” ujar Chika.
“Iyo, Da. Kau siapkelah yang nak ditanyo, gek kami rewangi bes tuh.” Sambung Ira, dibarengi dengan anggukan teman yang lain.
“Oii ado Ibunyo nah, OTW.” sahut Nanda dan Wiwid dari arah pintu yang baru saja dari kantin.
Semua murid pun duduk, sambil mengambil buku-buku biologi dari dalam tas mereka masing-masing. Hingga yang “ditunggu” pun memasuki kelas.
“Payoo, kito’ bahas buku yang UN 20000 tuh. Kita’ bahas.. Kelas lain sudah, 50 soal. Kelas ini mana’, belum yaa’..?” sahut Bu Erli setelah mengucapkan salam dan meletakkan buku, dengan suara khasnya.
“Naaaah, sudah Bu. Kemaren 24 ikok kan sudah.” kata Ira sambil memperlihatkan bukunya.
“Nah yo sudah. Lanjutkenlah! Bergegas! sekarang kito’ bahas yang selanjutnya’. Payoo tukerlah sama’ kawan sebangku” suruh beliau.
“Sudah Bu” sahut semua murid dengan semangat, namun ada pula yang bermalas-malasan. Sebut saja dia Dek Mala. *siapakah dia? Hanya penghuni tetap kelas tersebut yang tahu.*
“Ayo’ mulai lah dari ujung kiri sana’.” ujar Bu Erli sambil menunjuk ke arah Deasi.
“Kegiatan industri dan pertambahan populasi pertambahan populasi manusia mengakibatkan peningkatkan konsentrasi karbon oksida di atmosfer. Peningkatan tersebut dapat mengakibatkan..” Ratna membaca soal.
“Nah itu yah, Kegiatan industri dan pertambahan populasi pertambahan populasi manusia mengakibatkan peningkatkan konsentrasi karbon oksida di atmosfer. Peningkatan tersebut dapat mengakibatkan, apa’? yang A’ efek rumah kaca bener, yang Be’ terganggunya proses nitrifikasi ya’ naaah bener, Ce’ terjadi hujan asam juga bener, De’ terbentuknya lubang ozon ini bener juga boleeeh, yang E’ terjadi nitrifikasi nah bener galo’ ini, tapi yang tepat cuma satu’. Yaitu yang A’.” Jelasnya.
Sontak hampir semua murid yang memperhatikannya menjadi cengo.
“Nah ngapo cak itu buk? Ngapo dak terbentuknya hujan asam buk? Kan itu kegiatan industri?” Huda bertanya.
“Yo efek rumah kaca itu bukannyo’ rumah atapnyo’ kaca’ . Coba Hudak kamu cari’ efek rumah kaca’ itu apa’? Cari’!” kata Bu Erli sambil bangkit dari kursinya menuju kearah bangku Huda.
“Nah Huda ini, wong lagi enak-enak baco fanfic, malah bangunin harimau tedok. Ai dah” batin Winda yang berhenti membaca fanfiction Naruto di hape samsungnya.
“Ai dah, bangkit pulo dio. Enak-enak smsan juga’.” hati kecil Septi pun juga bicara. Dengan logat anak Bekasi gaul *kalo dak dalem hati*
“Hmmmm.. Ngantuk ai lamo-lamo aku pelajaran Ibu ini. Tedok aahhh” ujar Messy dalam hati. Messy pun mulai berangkat ke pulau kapuk pemirsaaa..
“Ayok Hudak! Apa’ tuh efek rumah kaca’? Dak tau kan? Nah.. Efek rumah kaca tuh energi matahari yang sampai ke bumi, terus dipantulkan kembali ke atmosfer tapi dia tertahan oleh lapisan yang seperti kaca, jadi energi tadi mantul lagi dia’ ke bumi..” jelas Bu Erli.
“Jadi bukan rumah yang pake kaca’ atapnya’ yah. Jadi jawabnya A’.” sambungnya.
“Ohhh” ucap Ira sambil mengangguk.
“Hmmmm, kalah aku! Gek ee tunggu be kau!!” batin Huda membara.
“Kasian Huda kalah omongan. Gek besok-besok ku bantu lah” batin Chika sambil pura-pura membaca.
“Lanjut, berikutnya.” Kata Bu Erli.
Berlangsunglah semua, hingga suara mas dan mbak TU berbunyi lagi. Pelajaran Biologi selesai.
“Abis ya’. Satu jam kan ya’. Yo sudah, lanjutke, hari apa ada’?” tanya Bu Erli.
“Kamis Bu..” sahut murid-murid.
“Nah iyok kamis ya’ kerjoken lah soal-soalnyo tuh, bergegas ya’.” Ucapnya sambil meninggalkan kelas XII IPA 3.
“Iyo Bu..” sahut semuanya.
“Mes, gek aku balek dengen kau eee” kata Lupek pada Messy. Namun Messy tidak menyahut.
“Mes..Mes..” Lupek menggoncang-goncang tubuh besar Messy. Tetapi tetapi tak ada reaksi.
“Ah kebiasaaaannnn” kesal Lupek, hingga akhirnya Lupek ikut tidur. Begitupun semua teman yang duduk di barisan tersebut.
Pelajaran Bahasa Inggris. Guru yang bersangkutan sedang berhalangan mengajar. Namun mereka isi dengan banyak hal. Diantaranya tidur, gosip, belajar sendiri, main kartu, main hp, denger musik, pacaran, makan, dan sebagainya.
“Huh! Dah!!” umpat Huda.
“Sudah, Da. Gek besok kan les, kito tanyoi sepuasnyo” usul Nadia.
“Okelah. Sip Nad!” balas Huda diikuti anggukan kepala oleh teman di dekatnya.
Semua pelajaran telah dilewati oleh murid-murid kelas yang memiliki nama grup Scotgun13 ini. Lalu apakah yang akan terjadi esok hari pada mereka semua??
###############################################################
HEHE. Itu Cuma cerpen amatiran. Yang iseng ku buat.
*Maaf kalo ado yang tersinggung dengan dialog2 yang aku buat untuk beberapa diantara kalian. Kalo merasa tersinggung, ngomong be hehe.
*Ini cuma bentuk simpati untuk murid2 yang dak seneng dengen Bu ****.
*Maaf pake cast kalian.
*sengajo pake "Cengal" :p
*link cuma di share di GRUP BBM
*sengajo pake "Cengal" :p
*link cuma di share di GRUP BBM
*Thanks sudah baco..
*Selesai di buat : Pukul 0.26 WIB (20 Februari 2015)

0 Komentar untuk "CERPEN : Perjuangan SCOTGUN!"