-->

Berusaha, bersyukur, lalu bahagia.


CERPEN : Maafkan Aku Ayah...

Bismillahirrohmanirrohim...


Halo!

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Selamat Membaca... :)




Maafkan Aku, Ayah...

     Tahun ajaran baru telah dimulai. Wangi khas pakaian baru pun tercium dari tubuh semua siswa-siswi sekolah. Beberapa diantara mereka masih merasa tak percaya, jika kini mereka telah mengenakan pakaian abu-abu yang merupakan seragam sekolah tingkat atas ini.
     Begitu pun Shania dan ketiga temannya. Setelah selama satu minggu mengikuti kegiatan masa orientasi sekolah, mereka merasa lega dan senang karena kini telah resmi menjadi siswa di sekolah yang memang mereka idam-idamkan sejak masih duduk di bangku SMP.
     Kini mereka berempat sedang duduk-duduk di dalam kelas. Ya, nasib mereka yang memang baik atau mungkin karena pertemanan mereka yang sangat erat, di kelas 10 ini mereka kembali satu kelas seperti saat SMP dulu.
     “Pulang sekolah nanti kita jalan-jalan ke mall yuk!” ajak salah satu teman Shania yang bernama Jeje.
     “Ke mall? Ayo! Tapi naik apa?” tanya Shania.
     “Naik motor dong, Shan!” jawab teman Shania satu lagi, yakni Nabilah.
     “Iya, Shan, kamu membawa motor tidak?” tanya Jeje.
     “Tidaklah, aku kan tadi diantar Ayahku,” jawab Shania, ”kalian benar-benar membawa motor sendiri?”
     “Aku dan Jeje saja yang membawa motor. Sedangkan Nabilah tadi ikut denganku,” jelas Kinal, yang duduk satu bangku dengan Shania. Nabilah dan Jeje mengangguk tanda mengiyakan perkataan Kinal.
     “Lalu, kalau pulang sekolah nanti kamu naik apa?” tanya Nabilah.
     “Nanti ibuku yang akan menjemput,” jawab Shania.
     Sontak terdengar suara tawa yang berasal dari ketiga teman Shania.
     “Haha, sudah SMA masih minta antar jemput, Shan?” tanya Jeje yang masih tak bisa menahan tawa.
     “Haha iya...kamu seperti anak kecil saja, Shan...” sindir Kinal dengan nada heran.
     “Enak saja! Aku bukan anak kecil!” sanggah Shania tak terima.
     “Kalau kamu bukan anak kecil, lalu apa dong?” cetus Nabilah.
     “Bil, kamu saja masih minta jemput Kinal! Lalu apa bedanya denganku?” ujar Shania mulai tersulut emosi.
     “Ya setidaknya aku kan tidak diantar jemput oleh Ayah atau pun Ibuku lagi. Nanti juga aku mau meminta Ayahku membelikan motor untukku. Jadi awal-awal ini, aku pergi ke sekolah bersama dengan Kinal dulu,” urai Nabilah.
     “Kamu ke sekolah membawa motor saja, Shan! Lagi pula banyak kok teman-teman lain yang membawa motor juga, bahkan ada yang membawa mobil,” kata Kinal.
     “Iya aku tahu, tadi tidak senjaga aku melihat di parkiran,” balas Shania.
     “Ya sudah bawa saja motor, Shan! Kamu sudah bisa kan naik motor?” ucap Jeje. Shania mengangguk.
     “Lumayan bisa sih. Baiklah, nanti aku akan bilang ke orang tuaku,” ujar Shania.
     “Hehe begitu dong!” kata ketiga temannya serempak.
     “Lalu, pergi ke mall-nya jadi tidak?” tanya Shania.
     “Jadi dong! Kamu ikut aku saja, Shan,” jawab Jeje.
     “Oke, setelah pulang sekolah ini kita jalan-jalan mall ya! Yeayyy!” seru Nabilah.
     Perbincangan mereka berempat terhenti ketika seorang guru berjalan memasuki kelas mereka itu. Sang guru selaku wali kelas pun mulai memperkenal diri. Ia juga menyuruh murid-murid yang akan menjadi anak didiknya itu untuk saling memperkenalkan diri satu persatu di depan kelas.
     Matahari terlihat semakin tinggi, udara siang pun terasa semakin panas hingga terasa di ubun-ubun kepala. Kini beberapa murid saling berjalan cepat bahkan berlarian keluar kelas setelah mendengar suara bel tanda pulang sekolah.
     “Kita terakhiran saja pulangnya, pasti sekarang di parkiran sedang ramai. Aku malas kalau berempit-empitan,” ucap Nabilah yang mulai duduk di bangku teras kelas mereka.
     “Iya, mall-nya juga tidak berjalan, kan?” canda Kinal sembari melihat ke arah jam tangannya.
     “Ya sudah,” ujar Shania dan Jeje.
     Mereka bertiga mengikuti Nabilah duduk di bangku itu. Sambil menunggu, mereka saling memainkan gadget mereka sendiri untuk menghilangkan kebosanan. Namun tiba-tiba terdengar suara handphone milik Shania.
     “Haduh, aku lupa kalau Ibuku menjemput! Sekarang dia sudah menunggu di depan gerbang. Bagaimana ya?” ujar Shania gelisah, seakan meminta pendapat kepada teman-temannya.
     “Bilang saja dulu kalau kamu diajak oleh teman-temanmu ke mall,” saran Kinal.
     “Oke, aku ke sana dulu ya!” kata Shania, lalu berjalan cepat meninggalkan ketiga temannya menuju ke depan gerbang sekolah.
     Sesampainya ia lihat sang ibu sedang duduk di atas kendaraan beroda dua dengan jaket dan helm yang ia kenakan di tubuhnya. Terlihat ibu dengan sabar dan setianya menunggu Shania yang belum juga keluar dari arah gerbang sekolah.
     “Ibu!” panggil Shania.
     “Akhirnya kamu keluar juga, Nak. Ayo kita pulang!” ujar Ibu yang sudah bersiap menghidupkan mesin motor kembali.
     “Ehmmm...Bu...,” ucap Shania ragu-ragu. Ia belum menaiki motor yang ditunggangi Ibu.
     “Kenapa?” tanya Ibu, ia heran melihat gelagat putrinya.
     “Aku diajak teman-teman pergi ke mall,” jawab Shania.
     “Ke mall? Kapan?”
     “Sekarang.”
     “Kenapa tidak pulang ke rumah terlebih dahulu? Kalian kan belum makan siang, perut kalian pasti kosong. Memangnya kalian ke sana naik apa?” balas Ibu.
     “Naik motor, Bu. Aku berboncengan dengan Jeje,” ujar Shania.
     “Apa? Naik motor?” kata Ibu kaget, “bilang kepada teman-temanmu kalau kamu tidak diizinkan oleh Ibu.”
     “Ya...kenapa, Bu?”
     “Sekali tidak, ya tidak, Shania...”
     Shania hanya bisa merengut kesal mendengar perintah sang ibu. Namun ia kemudian berjalan masuk kembali ke dalam sekolah. Dan menemui teman-temannya yang sudah sejak tadi menunggu.
     “Teman-teman...maaf ya, aku tidak diizinkan oleh ibuku pergi ke mall bersama kalian,” ujar Shania dengan berat hati.
     “Lho, memangnya kenapa Shan?” tanya Jeje heran. Shania hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
     “Ya sudah, tidak-tidak apa kok,” ujar Nabilah.
     “Maaf ya...padahal aku ingin sekali berjalan-jalan bersama kalian...” kata Shania merasa bersalah.
     “Tidak apa-apa, Shan,” ujar ketiga temannya.
     Masih dengan perasaan kesal kepada Ibu, Shania melangkah gontai masuk ke dalam rumah setelah motor yang ia tumpangi telah sampai di depan halaman tempat tinggal mereka.
     “Dek, makan dulu!” suruh Ibu.
     “Iya...” sahut Shania dengan nada malas. Kini ia telah berganti pakaian dengan baju yang biasa ia pakai sehari-hari.
     “Enak kan ayam gorengnya?” tanya Ibu. Ia sedang membaca majalah terbaru yang belinya tadi pagi sembari menemani anaknya itu makan.
    Shania hanya mengangguk lemah.
     “Pasti saat ini mereka sedang bersenang-senang di sana. Hahhh...” ujar Shania dalam hati.
     “Kamu kenapa mukanya begitu terus? Nanti cepat tua lho...” canda Ibu.
     “Kenapa Ibu malah bertanya? Ibu kenapa sih tidak mengijinkan Shania ikut berjalan-jalan dengan teman-teman? Kan asyik Bu, menikmati hari pertama sekolah,” jawab Shania kesal.
     Ibu terdiam sebentar. Diletakkannya majalah yang ia baca tadi, kemudian menghela napas pelan. Bersabar untuk menghadapi emosional anak bungsunya ini.
     “Shania tahu kan, umur Shania sekarang berapa?” tanya Ibu lembut.
     “15 tahun,” jawabnya singkat.
     “Sudah punya SIM?” Shania menggeleng pelan.
     “Teman-temanmu punya?” ia menggeleng lagi.
     “Anak seumuranmu belum cukup umur untuk mengendarai motor di jalan raya. Kalau kalian ditilang oleh polisi bagaimana? Apalagi kalian masih pakai pakaian sekolah,” ujar Ibu.
     “Tapi kan kami memakai helm, Bu. Kenapa mesti ditilang?” tanya Shania masih dengan nada kesal, “pokoknya besok aku mau pergi ke sekolah naik motor sendiri.”
     “Shania!”
     “Kenapa sih, Bu, dilarang lagi? Aku itu sudah dewasa, teman-temanku juga sudah banyak yang memakai motor,” kata Shania. Ia meminum air putih yang memang ada meja makan, lalu berlari masuk ke dalam kamarnya.
    Ibu bergeming, tak mengerti kenapa Shania tiba-tiba berperilaku seperti ini. Apakah karena malaikat kecilnya itu sudah beranjak dewasa? Tetapi hal itu tidak pernah ia rasakan dari kakak Shania, Veranda, yang selalu mematuhi perkataan orang tua sejak masa kecil hingga kuliah ini.
     “Apakah aku yang salah mendidiknya? Atau mungkin terlalu memanjakannya?” batin Ibu bingung.
     Malam telah menjelang. Bintang-bintang nampaknya dengan setia menemani sang rembulan untuk menyinari gelapnya langit. Sungguh pemandangan yang indah jika dilihat oleh para manusia secara langsung. Hati yang tadinya penuh kegelisahan lalu pudar dengan sendirinya ketika melihat keindahan Tuhan itu. Namun mungkin tak seperti hati Shania yang masih kesal dengan sang ibu. Hingga kini ia masih mengurung diri di dalam kamarnya walau tadi sempat pula keluar hanya untuk mandi.
     Terlihat sang ayah yang baru saja pulang dari tempatnya bertugas. Ia kini duduk bersama anak pertamanya setelah sebelumnya membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Sementara sang istri sepertinya masih berada di dapur.
     “Shania mana, Ve?” Veranda mengendikkan bahunya.
     “Dia di kamarnya, Yah. Saat aku ajak untuk makan malam, dia tidak mau. Pintunya pun dikunci,” jawab Veranda dengan nada sedikit cemas.
     “Kenapa dia seperti itu?”
     “Dia ingin ke sekolah dengan menggunakan motor, tetapi Ibu melarangnya,” jawab sang istri sambil membawa beberapa piring makanan. Ia lalu ikut duduk bersama suami dan anaknya.
     “Menggunakan motor ke sekolah?” kata Ayah kaget. Ibu mengangguk.
     “Coba Ayah membujuknya. Dia sejak tadi belum keluar kamar, Ibu jadi khawatir...,” ujar Ibu.
     Sementara Veranda yang memang sudah mendengar cerita dari Ibu setelah ia pulang dari kampusnya tadi sore, juga ikut merasa khawatir. Sebab pada sore hari, sang adik biasanya menonton acara televisi kesukaannya di ruang keluarga bersama Ibu.
     Ayah kembali berdiri dari kursi yang ia duduki. Dilangkahkan kakinya menuju kamar putrinya yang tak jauh dari ruang makan.
     “Shania...buka pintunya sayang...” panggil Ayah sambil sesekali mengetuk pintunya, “kita makan malam dulu yuk!”
     “Shania tidak lapar!” teriak Shania dari dalam kamar.
     “Makan dulu dong, nanti kamu sakil lho,” desak Ayah.
     Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Muncullah  Shania yang kini berdiri di hadapan sang ayah. Raut wajahnya masih terlihat sama seperti tadi.
     “Shania kan sudah bilang, Shania tidak lapar...,” ujar Shania kesal.
     “Kamu kenapa sih, Nak? Marah dengan Ibu? Ibu benar kok,” kata Ayah mulai menasehati. Shania terdiam.
     “Kamu itu masih belum cukup umur untuk membawa motor sendiri. Belajar motor saja masih kurang fasih. Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu?”
     “Ayah bilang seperti ini, karena Ayah sangat tahu betul seluk beluk lalu lintas. Bahkan sudah banyak sekali anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan, oh...bukan korban, tetapi kesalahannya sendiri yang memang tidak mematuhi peraturan lalu lintas,” lanjutnya, “jadi Ayah sangat mohon denganmu, Nak. Janganlah menjadi salah satu orang yang celaka itu.”
     “Tapi di teman-temanku banyak kok, Yah, yang membawa motor bahkan mobil sendiri ke sekolah. Mereka tidak apa-apa dan masih sehat-sehat saja,” balas Shania.
     Ayah menghela napas berat, “lagi pula jarak antara rumah dan ke sekolah kan cukup jauh. Mesti melewati jalan raya yang sangat banyak kendaraan berlalu lalang. Apa salahnya jika Ayah dan Ibu yang mengantar jemput? Shania malu?”
     “Iya, Shania malu. Shania kan bukan anak kecil lagi yang mesti diantar jemput sekolah...”
     “Itu karena kamu punya penyakit asma. Terkena asap kendaraan mobil saja kamu sudah sesak napas. Itulah sebabnya mengapa Ayah tidak pernah mengizinkan kamu untuk menaiki kendaraan umum ke sekolah,” urai Ayah dengan sabar.
     Ia adalah sosok ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. Terutama Shania yang memang sejak kecil sangat dekat dengannya. Namun semua sedikit berubah sejak Ayah semakin sibuk dengan pekerjaannya mengatur kendaraan-kendaraan yang tidak disiplin di jalan raya. Pergi pagi pulang malam sudah menjadi kebiasaan Ayah yang membuatnya menjadi jarang berada di rumah. Apalagi kini ia sudah naik pangkat yang mengharuskannya untuk bekerja lebih baik lagi.
     “Ayah dan Ibu sama saja!” ucap Shania. Ia dengan cepat menutup kembali pintu kamar lalu menguncinya.
     “Shania! Shania!” panggil Ayah.
     “Kapan aku mengajarkannya untuk menjadi anak yang seperti itu?” gumamnya sedih, setelah kembali berkumpul di meja makan.
     “Ya sudahlah, Yah. Besok Ibu akan membujuknya lagi. Semoga saja besok dia tidak memberontak seperti ini lagi,” ujar Ibu menenangkan Ayah, walau sebenarnya kini perasaannya tak berbeda jauh dengan sang suami.
     “Sabarkan orang tuaku, Ya Tuhan...” batin Veranda sambil tersenyum pedih.
    Habis gelap terbitlah terang. Matahari kini sudah kembali datang menghangatkan semua tubuh makhluk hidup di bumi. Dengan cahayanya yang silau, ia bahkan mampu membangunkan para insan yang masih setia dengan kasur dan bantal mereka. Tetapi tidak untuk sebuah keluarga yang memang sangat disiplin ini.
     “Aku nanti dijemput Jeje,” ucap Shania disela-sela waktu sarapan. Ayah dan Ibu saling menatap bingung.
     “Kenapa begitu? Ayah yang akan mengantarkanmu ke sekolah,” ujar Ayah.
     “Jeje sudah menunggu di depan. Ayah, Ibu, Kak Ve aku pamit,” kata Shania dengan cepat. Lalu berjalan keluar rumah setelah berpamitan.
     “Shania...Shania!” panggil Veranda pada adiknya walau terkesan percuma.
    Shania berjalan dengan cepat keluar dari halaman rumahnya. Ia menghampiri Jeje yang sudah menunggunya di depan gerbang.
     “Ayo, Je!” dia sudah siap duduk di atas motor Jeje.
     Shania sudah mencurahkan kejadian ia dan orang tuanya kepada ketiga sahabatnya. Makanya hari ini ia pun memilih pergi bersama dengan Jeje.
     “Oke...let’s go!” Jeje pun mulai mengemudikan motornya menuju ke sekolah mereka.
     Sesampainya di kelas, mereka berdua disambut oleh Kinal dan Nabilah yang memang sudah sampai di sekolah terlebih dahulu.
     “Kemarin kalian jadi kan pergi ke mall?” tanya Shania setelah duduk di kursinya.
     “Jadi, dong! Seru sekali, Shan. Ya kan teman-teman?” ujar Nabilah. Kinal dan Jeje mengangguk dengan semangat.
     “Sayang sekali kemarin aku tidak ikut,” kata Shania pelan, “bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita mall? Kan aku kemarin tidak ikut seru-seruan bersama kalian.”
     “Memangnya kamu diperbolehkan?” tanya Kinal yang duduk disebelahnya.
     “Ehmmm...” gumam Shania ragu, “boleh kok!”
     “Wah, seru dong! Baiklah nanti kita mall bersama!” seru Jeje.
     “Sebenarnya kemarin juga tidak terlalu seru, karena tidak ada kamu, Shan,” kata Nabilah.
     “Oh iya, nanti biar aku saja yang membawa motormu, Je!”
     “Yakin kamu?” Shania mengangguk mantap, “baiklah...”
     Seperti siswi-siswi yang lain, mereka pun masih melanjutkan perbincangan mereka masing-masing. Hingga akhirnya guru yang mengajar pada pelajaran pertama di kelas mereka masuk.
     Tak terasa siang telah menjelang. Parkiran terlihat ramai oleh kendaraan-kendaraan para siswa yang sebenarnya belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Sebenarnya pihak sekolah telah melarang para murid untuk membawa kendaraan sendiri. Namun karena kurangnya kedisiplinan murid-murid itu sendiri, hingga ini semakin banyak saja siswa yang berani membawa kendaraan ke sekolah. Bahkan ada saja orang tua/wali murid yang datang ke sekolah hanya untuk menolak peraturan itu dengan alasan rumah mereka yang cukup jauh dari sekolah. Alhasil pihak sekolah pun tak bisa berbuat banyak.
     “Jeje, ayo cepat naik! Nanti kita malah tertinggal oleh mereka berdua!” seru Shania yang sudah menyala motor milik Jeje setelah memasang helm di kepalanya.
    Mereka lalu membawa motor keluar dari halaman sekolah. Motor Jeje kini berada di belakang motor Kinal. Merasa tak puas, Shania pun menaikkan kecepatan kemudinya untuk mendahului Kinal dan Nabilah hingga hampir saja motor Jeje itu menyerempet sebuah mobil milik orang lain.
     “Shan, hati-hati dong! Ini jalan raya, banyak kendaraan yang lewat,” ujar Jeje sedikit berteriak agar terdengar oleh Shania.
     “Haha...sudahlah kamu tenang saja, Je! Aku sudah handal kok membawa motor! Kamu tidak perlu khawatir!” balas Shania sambil menoleh sedikit ke arah belakang.
     Tak jauh dari jalan itu, beberapa polisi lalu lintas sedang melakukan sebuah razia. Seorang pengendara motor pun terjaring oleh sang polisi.
     “Selamat siang, Mas,” salam polisi kepada pengendara itu.
     ”Kenapa saya ditilang, Pak? Saya sudah lengkap kan? Helm, jaket, sarung tangan, SIM, STNK pun saya juga ada,” tanyanya bingung.
     “Maaf Mas, plat motor anda sudah melewati masa berlaku,” jawab polisi dengan sopan.
     “Oh iya, Pak. Saya lupa!” ucap pengendara itu sambil menepuk keningnya.
     “Boleh saya minta SIM-nya?” ujar polisi. Si pengendara mengangguk lalu memberikan SIM-nya kepada sang polisi.
     Bruuuukkk...Tiba-tiba terdengar suara kendaraan saling bertabrakan yang cukup keras.
     “Wah, Pak, sepertinya ada kecelakaan di sana!” seru pengendara itu.
     Sang polisi pun ikut melihat sekilas ke arah sana. Ia lalu memanggil dan bertanya kepada bawahannya yang memang berdiri cukup dekat dengannya.
     “Kenapa itu?”
     “Tabrakan motor dan mobil, Pak,” jawab bawahannya.
     “Tolong kamu selesaikan dulu permasalahan pengendara ini. Saya ingin melihat ke sana,” suruh polisi itu.
     Sang polisi yang didampingi oleh beberapa bawahannya, berjalan cepat menuju tempat kejadian. Sesampainya di sana, ia lihat sebuah mobil dengan keadaan sedikit rusak di bagian depannya dan juga dua orang remaja pengendara motor yang terluka parah.
     “Panggil ambulans!” teriak orang-orang yang ikut membantu kedua korban tabrakan itu.
     “Maaf, Pak, bukan saya yang salah, tetapi anak-anak ini,” ujar si pemilik mobil kepada sang polisi.
     “Arrrgggh...” rintih salah seorang pengguna motor ketika dibantu bangun oleh para penolong.
     “Shania...,” gumam sang polisi dengan pelan.
     “Pak, itu Shania anak Bapak kan?” tanya salah satu bawahannya.
     Perasaan kaget, malu, kesal, marah, kasihan, bersatu ketika melihat pengguna motor yang kini terdapat beberapa luka di tubuhnya itu. Matanya berkaca-kaca, rasanya tak mampu lagi ia berjalan untuk ikut membantu kedua anak itu. Bahkan bergerak pun terasa sulit. Ia masih bergeming, namun sedetik kemudian ia berjalan cepat membantu mereka berdua yang sudah dalam keadaan pingsan.
    Ia menghela napas berat, “bagaimana pun juga, aku harus bertanggung jawab!” batinnya.
    Hening menyergap salah satu ruangan di gedung berwarna putih ini. Orang-orang yang berada di sini seperti membisu seketika. Seorang lelaki paruh baya yang masih memakai pakaian dinasnya terlihat menatap kosong lantai keramik rumah sakit itu.
     “A...yah...ma...maafkan Shania...,” gumam seorang remaja yang kini tertidur di ranjang ruangan itu dengan terbata-bata. Di salah satu lengannya terdapat perban tebal yang menutupi lukanya.
     “Ayah keluar sebentar,” ucapnya dengan cepat. Sang istri pun mengikutinya. Meninggalkan Shania dan juga sang kakak yang izin pulang kuliah setelah mendengar kabar buruk dari orang tuanya.
     Diluar, Ibu mengusap-usap lembut punggung Ayah, “Ayah malu, Bu...Ayah malu! Seorang polisi lalu lintas yang setiap harinya mengatur-atur orang lain untuk disiplin di jalan raya, tetapi mengatur anaknya sendiri saja tidak becus. Sampai-sampai membuat anak orang lain celaka,” ujar Ayah kesal. Ibu terdiam sebentar.
     “Ibu tahu perasaan Ayah, ini juga salah Ibu. Ibu selalu berada di rumah, tetapi Ibu tidak paham dengan segala hal yang dialami oleh Shania,” kata Ibu dengan lembut.
    “Bagaimana pun Shania adalah anak kita, kesalahannya adalah kesalahan kita juga selaku orang tua. Lagi pula orang tua Jeje juga sudah mengerti dan memaafkan anak kita kan? Hm.. anggap saja ini adalah cobaan dari Tuhan agar lebih berhati-hati menjaga malaikat kecil kita,” lanjutnya.
    Ayah bergeming. Di dalam hatinya masih tersisa sebuah emosi yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.
    “Ayo kita masuk ke dalam!” ajak Ibu, “kasihan Shania, sejak tadi Ayah selalu mendiamkannya. Dia pasti sangat sedih,“ Ayah menatap wajah Ibu, terlihat sosok wanita yang selama bertahun-tahun ini telah menemani dan selalu ada di sampingnya ketika ia dalam keadaan suka maupun duka. Wanita tersabar yang tak pernah ia temui di mana pun juga, selain ibu yang telah melahirkanya.
    Ayah mengangguk pelan. Menerima ajakan Ibu untuk masuk ke dalam ruang rawat Shania. Perlahan ia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur putrinya. Shania pun hanya menatap Ayah dengan matanya yang sayu dan sembab. Diusapnya rambut anak kesayangannya itu.
    “Ayah sudah memaafkanmu, Nak!”
    “Benarkah?” ucap Shania tak percaya, ia langsung memeluk sang ayah dengan erat.
    “Iya, tapi ingat! Tolong turuti apa saja perkataan Ayah dan Ibu. Itu juga demi kebaikanmu, sayang. Dan...lupakan saja kejadian-kejadian yang sudah berlalu ya!”
    Shania perlahan melepas pelukan itu. Lalu mengangguk dengan semangat, “Shania janji akan selalu menuruti perkataan Ayah dan Ibu. Dan Shania berjanji tidak akan malu lagi meski diantar ke sekolah oleh Ibu dan Ayah!” ujarnya yakin. Sontak kedua orang tua dan kakaknya kemudian memeluknya dengan erat dan penuh sayang.
     “Terima kasih Tuhan...KAU telah memberiku sebuah keluarga yang sempurna,” batin Veranda dengan perasaan bahagia.

SELESAI
 
0 Komentar untuk "CERPEN : Maafkan Aku Ayah..."

Back To Top